Pembelajaran terpadu dan tematik

RESUME
PENGERTIAN, PERSAMAAN, DAN PERBEDAAN
PEMBELAJARAN TERPADU DAN PEMBELAJARAN TEMATIK

Oleh :
Teguh Prasetyo NPM 0713053056

PROGRAM STUDI S-1 PGSD
JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2010

A. PENGERTIAN PEMBELAJARAN TERPADU
Pengertian Pendekatan Integratif atau terpadu adalah rancangan kebijaksanaan pengajaran bahasa dengan menyajikan bahan-bahan pelajaran secara terpadu, yaitu dengan menyatukan, menghubungkan, atau mengaitkan bahan pelajaran sehingga tidak ada yang berdiri sendiri atau terpisah-pisah. Pendekatan terpadu terdiri dari dua macam :
1. Integratif Internal yaitu keterkaitan yang terjadi antar bahan pelajaran itu sendiri, misalnya pada waktu pelajaran bahasa dengan fokus menulis kita bisa mengaitkan dengan membaca dan mendengarkan juga.

2. Integratif Eksternal yaitu keterkaitan antara bidang studi yang satu dengan bidang studi yang lain, misalnya bidang studi bahasa dengan sains dengan tema lingkungan maka kita bisa meminta siswa membuat karangan atau puisi tentang banjir untuk pelajaran bahasanya untuk pelajaran sainsnya kita bisa menghubungkan dengan reboisasi atau bisa juga pencemaran sungai.
Pembelajaran terpadu merupakan suatu model pembelajaran yang mencoba memadukan beberapa pokok bahasan. Salah satu diantaranya adalah memadukan pokok bahasan atau sub pokok bahasan atau bidang studi, keterangan seperti ini disebut juga dengan kurikulum (DEPDIKBUD, 1990: 3), atau pengajaran lintas bidang studi (Maryanto, 1994: 3).

Menurut Cohen dan Manion (1992) dan Brand (1991) dalam (http:// anwarholil. blogspot. com/2008/04/pengertian-pembelajaran-terpadu. html), terdapat tiga kemungkinan variasi pembelajaran terpadu yang berkenaan dengan pendidikan yang dilaksanakan dalam suasana pendidikan progresif yaitu:
1. Kurikulum terpadu (integrated curriculum), kegiatan menata keterpaduan berbagai materi mata pelajaran melalui suatu tema lintas bidang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna sehingga batas antara berbagai bidang studi tidaklah ketat atau boleh dikatakan tidak ada.

2. Hari terpadu berupa perancangan kegiatan siswa dari sesuatu kelas pada hari tertentu untuk mempelajari atau mengerjakan berbagai kegiatan sesuai dengan minat mereka.

3. Pembelajaran terpadu menunjuk pada kegiatan belajar yang terorganisasikan secara lebih terstruktur yang bertolak pada tema-tema tertentu atau pelajaran tertentu sebagai titik pusatnya (center core / center of interest);
Pembelajaran Terpadu itu sendiri merupakan suatu model pembelajaran yang membawa pada kondisi pembelajaran yang relevan dan bermakna untuk anak. Pembalajaran terpadu merupakan media pembelajaran yang secara efektif membantu anak untuk belajar secara terpadu dalam mencari hubungan-hubungan dan keterkaitan antara apa yang telah mereka ketahui dengan hal-hal baru atau informasi baru yang mereka temukan dalam proses belajarnya sehari-hari.

Collins dan Dixon (1991:6) dalam http://sobarnasblog.blogspot.com/2009/04/model- pembelajaran-terpadu-di-sekolah.html menyatakan tentang pembelajaran terpadu sebagai berikut: integrated learning occurs when an authentic event or exploration of a topic in the driving force in the curriculum. Selanjutnya dijelaskan bahwa dalam pelaksanaannya anak dapat diajak berpartisipasi aktif dalam mengeksplorasi topik atau kejadian, siswa belajar proses dan isi (materi) lebih dari satu bidang studi pada waktu yang sama.

Pembelajaran terpadu adalah upaya memadukan berbagai materi belajar yang berkaitan, baik dalam satu displin ilmu maupun antar disiplin ilmu dengan kehidupan dan kebutuhan nyata para siswa, sehingga proses belajar anak menjadi sesuatu yang bermakna dan menyenangkan anak. Pembelajaran terpadu mengacu kepada dua hal pokok, yaitu : 1) keterkaitan materi belajar antar disiplin ilmu relevan dengan diikat/disatukan melalui tema pokok, dan 2) keterhubungan tema pokok tersebut dengan kebutuhan dan kehidupan aktual para siswa. Dengan demikian tingkat keterpaduannya tergantung kepada strategi dalam mengaitkan dan menghubungkan materi belajar dengan pengalaman nyara para siswa (http://sobarnasblog.blogspot.com/2009/04/model-pembelajaran-terpadu-di-sekolah.html).

Pendekatan pembelajaran terpadu merupakan suatu strategi yang memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan potensinya secara seimbang, optimal, dan terpadu pula. Pendekatan terpadu pada dasarnya membantu anak untuk mengembangkan dirinya secara utuh, membantu anak untuk menjadi pengembang dan pembangun ilmu pengetahuan melalui pengalaman nyata. Melalui proses pembelajaran terpadu anak dilatih untuk bekerja sama, berekreasi, dan berkolaborasi dengan teman sejawatnya ataupun guru dalam mengembangkan ilmu maupun memecahkan masalah-masalah yang dihadapi. Pendekatan pembelajaran terpadu mencoba untuk menjadikan pembelajaran relevan dan bermakna, proses belajar mengajar lebih bersifat informal, melalui pendekatan ini aktivitas belajar anak meningkat (Rusli Lutan, 1994 : 27) dalam http://sobarnasblog.blogspot.com/2009/04/model-pembelajaran-terpadu-di-sekolah.html.

Salah satu keterbatasan yang menonjol dari pembelajaran terpadu adalah pada faktor evaluasi. Pembelajaran terpadu menuntut diadakannya evaluasi tidak hanya pada produk, tetapi juga pada proses. Evaluasi pembelajaran terpadu tidak hanya berorientasi pada dampak instruksional dari proses pembelajaran, tetapi juga pada proses dampak pengiring dari proses pembelajaran tersebut. Dengan demikian pembelajaran terpadu menuntut adanya teknik evaluasi yang banyak ragamnya. (http://maestrofisika.blogspot.com/2009/05/it-fisika.html).

Ada banyak sekali bentuk strategi yang dapat diterapkan guru dalam melaksanakan model pembelajaran terpadu (model pembelajaran tematik). Di antaranya Model-model Pembelajaran Terpadu, adalah sebagai berikut:
1. Model terpisah (fragmented)
Pada jenis ini, berbagai disiplin ilmu yang berbeda dan terpisah dipadukan. Kelemahan strategi ini adalah keterhubungan menjadi tidak jelas dan terjadi lebih sedikit transfer pembelajaran. Sedangkan kelebihannya adalah adanya kejelasan dan pandangan yang terpisah dalam suatu mata pelajaran.

2. Model keterkaitan/keterhubungan (connected)
Pada strategi model pembelajaran terpadu jenis ini, topik-topik dalam satu disiplin ilmu berhubungan satu sama lain. Kekurangan dari model pembelajaran terpadu (model pembelajaran tematik) jenis ini adalah disiplin-disiplin ilmu tidak berkaitan, konten tetap terfokus pada satu disiplin ilmu. Sedangkan kelebihannya adalah konsep-konsep utama saling terhubung, mengarah pada pengulangan (reviu), rekonseptualisasi, asimilasi gagasan-gagasan dalam suatu disiplin ilmu.

3. Model sarang/kumpulan (nested)
Pada jenis model pembelajaran terpadu ini, keterampilan-keterampilan sosial, berfikir, dan konten dicapai dalam suatu mata pelajaran (subject area). Kelemahan model pembelajaran terpadu jenis ini adalah pelajar dapat menjadi bingung dan kehilangan arah mengenai konsep-konsep utama dari suatu kegiatan atau pembelajaran. Adapun kelebihan model pembelajaran terpadu jenis ini adalah guru dan siswa dapat memberi perhatian kepada berbagai mata pelajaran yang berbeda dalam waktu yang bersamaan, memperkaya, dan memperluas pembelajaran.

4. Model rangkaian (sequence)
Pada model pembelajaran terpadu model rangkaian, persamaan-persamaan yang ada diajarkan secara bersamaan meskipun termasuk ke dalam mata pelajaran yang berbeda-beda. Kelemahan model pembelajaran terpadu model ragkaian (sequence) adalah diperlukan kolaborasi terus-menerus dan fleksibilitas yang tinggi, dan guru hanya mempunyai sedikit otonomi untuk merangcang kurikulum. Kelebihan model ini adalah dapat difasilitasi transfer pembelajaran pada beberapa mata pelajaran. Dalam http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/2010/04/berbagai-bentuk-strategi-pada-model.html

5. Model integrated (terpadu)
Pada model pembelajaran terpadu model integrated (terpadu), pemaduan sejumlah topik dari mata pelajaran yang berbeda tetapi esensinya sama dalam sebuah topik tertentusehingga perlu adanya pengintegrasian multi disiplin.

6. Model immersed
Pada model pembelajaran terpadu model immersed dirancang untuk membantu siswa dalam menyaring dan memadukan berbagai pengalaman dan pengetahuan dihubungkan dengan medan pemakaiannya melalui pengintegrasian semua data dari setiap bidan study dan disiplin dengan mengaitkan gagasan-gagasan melalui minatnya.

7. Model Webbed ( jaring laba-laba )
Pada model pembelajaran terpadu model Webbed ( jaring laba-laba ) bertolak dari pendekatan tematik sebagai pemadu bahan dan kegiatan pembelajaran yang memiliki keterkaitan materi yang secara metodologis bisa dipadukan dengan mmilih dan memilah tema/pokok bahasan yang kemudian tema tersebut disebarkan ke dalam berbagai mata pelajaran dalam (http://www.slideshare.net/naninurnaeni/pembelajaran-terpadu-3534352)
Pembelajaran terpadu memiliki beberapa macam karakteristik, seperti menurut Hilda Karli (2003: 53) mengungkapkan bahwa Pembelajaran Terpadu memiliki beberapa macam karakteristik diantaranya:
1. Berpusat pada anak (studend centerd).
2. Memberi pengalaman langsung pada anak.
3. Pemisahan antara bidang studi tidak begitu jelas.
4. Menyajikan konsep dari berbagai bidang studi dalam suatu proses pembelajaran.
5. Bersipat luwes.
6. Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.
7. Holistik, artinya suatu peristiwa yang menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran terpadu di amati dan di kaji dari beberapa mata pelajaran sekaligus, tidak dari sudut pandang yang terkotak-kotak.
8. Bermakna, artinya pengkajian suatu penomena dari berbagai macam aspek memungkinkan terbentuknya semacam jalinan skemata yang dimiliki siswa.
9. Otentik, artinya informasi dan pengetahuan yang diperoleh sipatnya menjadi otentik.
10. Aktif, artinya siswa perlu terlibat langsung dalam proses pembelajaran mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga proses evaluasi.
Wujud lain dari implementasi terpadu yang bertolak pada tema, yakni kegiatan pembelajaran yang dikenal dengan berbagai nama seperti pembelajaran proyek, pembelajaran unit, pembelajaran tematik dan sebagainya.

Adapun kelebihan-kelebihan pembelajaran terpadu diantaranya:
1. Pengalaman dan kegiatan belajar anak akan selalu relevan dengan tingkat perkembangan anak.
2. Kegiatan yang dipilih sesuai dengan dan bertolak pada minat dan kebutuhan anak.
3. Seluruh kegiatan belajar lebih bermakna bagi anak sehingga hasil belajar akan dapat bertahan lebih lama.
4. Pembelajaran Terpadu menumbuh kembangkan keterampilan berpikir anak.
5. Menyajikan kegiatan yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui dalam lingklungan anak.
6. Menumbuh kembangkan keterampilan sosial anak seperti kerja sama, toleransi, komunikasi dan respek terhadap gagasan orang lain dalam Hilda Karli (2003: 53) http://makalahkumakalahmu.wordpress.com/2008/10/27/perencanaan-pembelajaran-terpadu-model-integreted/.

B. PENGERTIAN PEMBELAJARAN TEMATIK

Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga memberikan pengalaman belajar yang bermakna kepada siswa, Indrawati 2009. Pembelajaran tematik adalah yang dirancang berdasarkan tema-tema tertentu. Dalam pembahasannya tema itu ditinjau dari berbagai mata pelajaran. Sebagai contoh, tema “Air” dapat ditinjau dari mata pelajaran fisika, biologi, kimia, dan matematika. Lebih luas lagi, tema itu dapat ditinjau dari bidang studi lain, seperti IPS, bahasa, dan seni.

Pembelajaran tematik menyediakan keluasan dan kedalaman implementasi kurikulum, menawarkan kesempatan yang sangat banyak pada siswa untuk memunculkan dinamika dalam pendidikan. Unit yang tematik adalah epitome dari seluruh bahasa pembelajaran yang memfasilitasi siswa untuk secara produktif menjawab pertanyaan yang dimunculkan sendiri dan memuaskan rasa ingin tahu dengan penghayatan secara alamiah tentang dunia di sekitar mereka.

Pembelajaran Tematik merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang dapat diterapkan pada siswa kelas rendah (yaitu: siswa kelas I, II dan III) di Sekolah Dasar. Konsep pembelajaran tematik telah tercantum di dalam KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Di dalam KTSP tersebut dijelaskan bahwa pembelajaran tematik adalah pendekatan yang harus digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran di Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah. Karena itu, bagi guru SD terutama guru kelas rendah (I, II dan III) yang peserta didiknya masih berperilaku dan berpikir secara konkret, kegiatan pembelajaran sebaiknya dirancang terpadu dengan menggunakan tema sebagai pemersatu kegiatan pembelajarannya. Dengan cara ini maka pembelajaran untuk siswa kelas I, II, dan III dapat menjadi lebih bermakna, lebih utuh dan sangat kontekstual dengan dunia anak-anak. Artinya, dalam pembelajaran bahasa siswa tidak hanya berkutat pada konstrak teori bahasa, tetapi ditekankan pada sikap dan pemakaian bahasa yang kontekstual.

Arti Penting Pembelajaran Tematik menurut Departemen Pendidikan Nasional November, 2006
• Menekankan keterlibatan siswa dalam proses belajar secara aktif sehingga siswa memperoleh pengalaman langsung dan terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya.
• Menekankan penerapan konsep belajar sambil melakukan.

Ciri khas pembelajaran tematik:
1) Pengalaman dan kegiatan belajar sangat relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak usia sekolah dasar;
2) Kegiatan-kegiatan yang dipilih dalam pelaksanaan pembelajaran tematik bertolak dari minat dan kebutuhan siswa;
3) Kegiatan belajar akan lebih bermakna dan berkesan bagi siswa sehingga hasil belajar dapat bertahan lebih lama;
4) Membantu mengembangkan keterampilan berpikir siswa;
5) Mengembangkan keterampilan sosial siswa, seperti kerjasama, toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang lain.

Landasan Pembelajaran Tematik
Landasan filosofis:
(1). Progresivisme,
Proses pembelajaran perlu ditekankan pada pembentukan kreatifitas, pemberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah (natural), dan memperhatikan pengalaman siswa.
(2). Konstruktivisme,
Anak mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan obyek, fenomena, pengalaman dan lingkungannya.
(3). Humanisme,
Melihat siswa dari segi keunikan/kekhasannya, potensi, dan motivasi yang dimilikinya.

Landasan psikologis:
(1). Psikologi perkembangan untuk menentukan tingkat keluasan dan kedalamannya isi sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik
(2).Psikologi belajar untuk menentukan bagaimana isi/materi pembelajaran disampaikan kepada siswa dan bagaimana pula siswa harus mempelajarinya.

Landasan yuridis:
(1). UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
(2). UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Tematik
Menurut Kunandar (2007:315), Pembelajaran tematik mempunyai kelebihan yakni:
1. Menyenangkan karena berangkat dari minat dan kebutuhan peserta didik.
2. Memberikan pengalaman dan kegiatan belajar mengajar yang relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik.
3. Hasil belajar dapat bertahan lama karena lebih berkesan dan bermakna.
4. Mengembangkan keterampilan berpikir peserta didiksesuai dengan persoalan yang dihadapi.
5. Menumbuhkan keterampilan sosial melalui kerja sama
6. Memiliki sikap toleransi, komunikasi dan tanggap terhadap gagasan orang lain.
7. Menyajikan kegiatan yang bersifat nyata sesuai dengan persoalan yang dihadapi dalam lingkungan peserta didik.

Selain kelebihan di atas pembelajaran tematik memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan pembelajaran tematik tersebut terjadi apabila dilakukan oleh guru tunggal. Misalnya seorang guru kelas kurang menguasai secara mendalam penjabaran tema sehingga dalam pembelajaran tematik akan merasa sulit untuk mengaitkan tema dengan mateti pokok setiap mata pelajaran. Di samping itu, jika skenario pembelajaran tidak menggunakan metode yang inovatif maka pencapaian Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar tidak akan tercapai karena akan menjadi sebuah narasi yang kering tanpa makna (http://tarmizi.wordpress.com/2008/12/04/model-pembelajaran-tematik-kelebihan-dan-kelemahannya/).

Sedangkan Menurut Departemen Pendidikan Nasional November, 2006 keuntungan pembelajaran tematik ialah:
1) Siswa mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu,
2) Siswa mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar matapelajaran dalam tema yang sama;
3) Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan;
4) Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa;
5) Siswa mampu lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas;
6) Siswa lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajari matapelajaran lain;
7) Guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan dapat dipersiapkaan sekaligus.

C. PERSAMAAN DAN PERBEDAAN PEMBELAJARAN TEMATIK DAN PEMBELAJARAN TERPADU

Persamaan Pembelajaran Tematik dan Pembelajaran Terpadu

Materi :
Merupakan model pembelajaran yang memadukan beberapa materi dalam beberapa mata pelajaran yang terkait secara harmonis, sehingga memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa. Pembelajaran tematik pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga memberikan pengalaman belajar yang bermakna kepada siswa.

Tujuan pembelajaran:
Membantu guru dalam proses belajar mengajar dan membantu siswa memahami materi pelajaran.

Perbedaan Pembelajaran Tematik dan Pembelajaran Terpadu
Pengintegrasian :
1. Dalam Model Pembelajaran terpadu, keterpaduanannya terjadi beberapa macam hal beberapa diantaranya adalah karena adanya tumpang tindih sejumlah topik dalam beberapa mata pelajaran yang berbeda, butir-butir pembelajaran yang dapat dipayungkan pada induk mata pelajaran tertentu dll., sedangkan dalam Model pembelajaran Tematik pengintegrasiannnya terjadi karena adanya tema tertentu yang kecenderungannya dapat disampaikan melalui beberapa bidang studi lainnya.
2. Pembelajaran tematik diterapkan di kelas rendah sedangkan Pembelajaran terpadu di kelas tinggi.

Penerapan :
– Penerapan pembelajaran terpadu dapat diterapkan di kelas tinggi, sedangkan pembelajaran tematik hanya dapat dilakukan di kelas rendah.

Pagi di bulan Juni

seorang kakek berkeluh kesah pada cucunya
bahwa ia sekarang merasa tidak punya apa-apa.

dengan santainya sang cucu tersayang;
“kakek ku sayang, kakek masih punya kekayaan yang tak ternilai harganya”

sang kakek balik bertanya ke cucu;
” apa coba??!!! semua hartaku telah abis untuk semua anak2ku”

sang cucu paling tampan menjawab;
“kakek masih punya nenek yang setia melayanimu setiap waktu hihi;-)”

kakek tersenyum pada nenek hehehee
“cucu yang baik, bisa aja menghibur, kalo nenek pasti setia sampe mati”

kemudian susul dengan gelak tawa di ruang tamu.

pada hakikatnya semua harta kita tak mampu membeli kebahagian hati, kenyamanan jiwa dan berkah nikmat iman dari Tuhan.
yakin semua kesedihan, duka, dan kesusahan akan kembali padaNya.

dan sampe sekarangpun, Kita masih milik dan kepunyaan Illahi Robbi, Allah Azza wa Jalla pemilik semesta alam.

Laskar Pelangi dan Orang-Orang Sawang

Laskar Pelangi dan
Orang-Orang Sawang

PAPILIO blumel, kupu-kupu tropis yang menawan berwarna hitam menggaris biru-hijau itu mengunjungi pucuk filicium. Kehadiran mereka semakin cantik karena kehadiran kupu-kupu kuning berbintik metalik yang disebut pure clouded yellow. Mereka dan lidah atap sirap cokelat yang rapuh menyajikan komposisi warna kontras di atas sekolah Muhammadiyah. Dua jenis bidadari taman itu melayang-layang tanpa bobot bersukacita. Tak lama kemudian, seperti tumpah dari langit, ikut bergabung kupu-kupu lain, danube clouded yelow.

Hanya para ahli yang dapat membedakan clouded yellow dengan danube clouded yelow, berturut-turut nama latin mereka adalah Colias crocea dan colias myrmidone. Di mata awan kecantikan mereka sama: absolut dan hanya dapat dibayangkan melalui keindahan namanya. Keduanya adalah si kuning berawan yang mempesona laksana Danau Danube melintasi Eropa: sejuk, elegan, dan misterius. Berbeda denagn tabiat unggas yang cenderung agresif dan eksibionis, mahluk-mahluk bisu berumur pendek ini bahkan tak tahu kalu dirinya cantik. Meskipun jumlahnya ratusan, tapi kepak sayapnya senyap dan mulut mungil indahnya diam dalam kerupawanan yang melebihi taman lotus. Melihat rasanya aku ingin menulis puisi.

Saat ratusan pasang danube clouded yelow berpatroli melingkari lingkaran daun-daun filicium, maka mereka menjelma menjadi pasir-pasir kuning di Darmaga Olivir. Sayap-sayap yang menyala itu adalah fatamorgana pantulan cahaya matahari, berkilauan di atas butiran-butiran ilmenit yang terangkat abrasi. Sebuah daya tarik Belitong yang lain, pesona pantai dan kekayaan material tambang yang menggoda.

Kupu-kupu clouded yellow dan papilio blumei saling bercengkraman dengan harmonis seperti reuni besar bidadari penghuni berbagai surga dari agama yang berbeda-beda. Jika diperhatikan dengan seksama, setiap gerakan mereka, sekecil apapun, seolah digerakan oleh semacam mesin keserasian. Mereka adalah orkestra warna dengan insting sebagai konduktornya. Dan agaknya dulu memang telah diatur jauh-jauh hari sebelum mereka bermetafosis, telah tercatat di Lauhul Mahfuzh saat mereka masih meringkuk berbedak-bedak dalam gulungan-gulungan daun pisang, bahwa sore ini mereka akan menari-nari di pucuk-pucuk filicium, bersenda gurau, untuk memberikan pelajaran keagungan Tuhan.

Kupu-kupu ini sering melakukan reuni setelah hujan lebat. Sayangnya sore ini, pemandangan seperti butiran-butiran cat berwarna-warni yang dihamburkan dari langit itu serentak bubar dan harmoni ekosistem hancur berantakan karena serbuan sepuluh sosok Homo Sapiens. Mahluk-mahluk brutal ini memanjati dahan-dahan filicium, bersorak-sorai, dan bergelantungan mengklaim dahannya masing-masing. Kawanan ini dipimpin oleh setan kecil bernama Kucai. Berada pada posisi puncak rantai makanan seolah melegitimasi kecendrungan Homo sapiens untuk merusak tatanan alam.

Kucai mengangkangi dahan tertinggi, sedangkan Sahara, satu-satunya betina dalam kawanan itu, bersilang kaki di atas dahan terendah. Pengaturan semacam itu bukan karena budaya patriarki begitu kental dalam komunitas Melayu, tetapi karena pakaian Sahara tidak memungkinkan ia berada di atas kami. Ia adalah muslimah yang menjaga aurat rapat-rapat.

Kepentingan kami tak kalah mendesak dibanding kaum unggas, fungi, dan makhluk lainnya terhadap filicium karena dari dahan-dahannya kami dapat dengan leluasa memandang pelangi.

Kami sangat menyukai pelangi. Bagi kami pelangi adalah lukisan alam, sketsa Tuhan yang mengandung daya tarik mencengangkan. Tak tahu siapa di antara kami yang pertama kali memulai hobi ini, tapi jika musim hujan tiba kami tak sabar menunggu kehadiran lukisan langit menakjubkan ini. Karena kegemaran kolektif terhadap pelangi maka Bu Mus menamai kami kelompok Laskar Pelangi.

Sore ini, setelah hujan lebat sepanjang hari, terbentang pelangi sempurna, setengah lingkaran penuh, terang benderang dengan enam lapis warna. Ujung kanannya berangkat dari Muara Genting seperti pantulan permadani cermin sedangkan ujung kirinya tertanam di kerimbunan hutan pinus di lereng Gunung Selunar. Pelangi yang menghujam daratan ini melengkung laksana jutaan bidadari berkebaya warna-warni terjun menukik ke sebuah danau terpencil, bersembunyi malu karena kecantikannya.

Kini filicium menjadi gudah karena kami bertengkar bertentangan pendapat tentang panorama ajaib yang terbentang melingkupi Belitong Timur. Berbagai versi cerita mengenai pelangi menjadi debat kusir, dongeng yang paling seru tentu saja dikisahkan oleh Mahar. Ketika kami mendesaknya ia sempat ragu-ragu. Pandangan matanya mengisyaratkan bahwa: kalian tidak akan bisa menjaga informasi yang sangat penting ini.

Perempuan-Perempuan Perkasa

Perempuan-Perempuan Perkasa

AKU pernah membaca kisah tentang wanita yang membelah batu karang untuk mengalirkan air, wanita yang menenggelamkan diri belasan tahun sendirian di tengah rimba untuk meyelamatkan beberapa keluarga orang utan, atau wanita yang berani mengambil resiko tertular virus ganas demi menyembuhkan penyakit anak yang sama sekali tak dikenalnya nun jauh di Somalia. Di sekolah Muhammadiyah setiap hari aku membaca keberanian berkorban semacam itu di wajah wanita muda ini.

N.A. Muslimah Hafsari Hamid binti K.A. Abdul Hamid, atau kami memanggilnya Bu Mus, hanya memiliki selembar ijazah SKP (Sekolah Kepandaian Putri), namun beliau bertekad melanjutkan cita-cita ayahnya K.A Abdul Hamid, pelopor sekolah Muhammadiyah di Belitong untuk terus mengobarkan pendidikan islam. Tekad itu memberinya kesulitan hidup yang tak terkira, karena kami kekurangan guru. Lagi pula siapa yang rela diupah beras 15 kilo setiap bulan? Maka selama enam tahun di SD Muhamadiyah, beliau sendiri yang mengajar semua mata pelajaran mulai dari dari Menulis Indah, Bahasa Indonesia, Ilmu Bumi, sampai Matematika, Geografi, Prakarya, dan Praktik Olah Raga. Setelah seharian mengajar beliau menerima jahitan sampai jauh malam untuk mencari nafkah, menopang hidup dirinya dan adik-adiknya.

BU MUS adalah seorang guru yang pandai, karismatik, dan memiliki pandangan jauh kedeapan. Beliau menyusun sendiri silabus pelajaran Budi Pekerti dan mengajarkan kepada kami sejak dini pandangan-pandangan dasar moral, demokrasi, hukum, keadilan, dan hak-hak asasi. Jauh hari sebelum orang-orang sekarang meributkan soal materialisme versus pembangunan spritual dalam pendidikan. Dasar-dasar moral itu menuntun kami membuat kontruksi imajiner nilai-nilai integritas pribadi dalam konteks islam. Kami diajarkan menggali nilai luhur di dalam diri sendiri agar berperilaku baik karena kesadaran pribadi. Materi pelajaran budi pekerti yang hanya diajarkan di sekolah Muhammadiyah sama sekali tidak seperti kode perilaku formal yang ada dalam konteks legalitas institusional seperti sapta prasetya atau pedoman-pedoman lainnya.

“Shalatlah tepat waktu, biar dapat pahala lebih banyak”, demikian Bu Mus selalu menasehati kami.

Bukankah ini kata-kata yang diilhami surah An-Nisa dan telah diucapkan ratusan kali oleh puluhan khatib? Sering kali dianggap sambil lalu saja oleh umat. Tapi jika yang mengucapkannya Bu Mus kata-kata itu demikian berbeda, begitu sakti, berdengung-dengung di dalam kalbu. Yang terasa kemudian adalah penyesalan mengapa telah terlambat sholat.

Pada kesempatan lain, karena masih kecil tentu saja, kami sering mengeluh kenapa sekolah kami tak seperti sekolah-sekolah lain. Terutama atap sekolah yang bocor dan sangat menyusahkan saat musim hujan. Beliau tak menanggapi keluhan itu tapi mengeluarkan sebuah buku berbahasa Belanda dan memperlihatkan sebuah gambar.

Gambar itu adalah sebuah ruangan yang sempit, dikelilingi tembok tebal yang suram, tinggi, gelap, dan berjeruji. Kesan di dalamnya begitu pengap, angker, penuh kekerasan dan kesedihan.
“Inilah sel Pak Karno di sebuah penjara di Bandung, di sini beliau menjalani hukuman dan setiap hari belajar, setiap waktu membaca buku. Beliau adalah salah satu orang yang tercerdas yang pernah dimiliki bangsa ini”.
Beliau tak melanjutkan ceritanya.
Kami tersihir dalam senyap. Mulai saat ini kami tak pernah lagi memprotes keadaan sekolah kami. Pernah suatu ketika hujan turun sangat lebat, petir sambar menyambar. Trapani dan mahar memakai terindak, topi kerucut dari daun lais khas tentara Vietkong, untuk melindungi jambul mereka. Kucai, Borek, dan Sahara memakai jas hujan kuning bergambar gerigi metal besar di punggungnya dengan tulisan “UPT Bel” (Unit Penambangan Timah Belitong) jas hujan jatah PN Timah milik bapaknya. Kami sisanya hampir basah kuyup. Tapi sehari pun kami tak pernah bolos, dan kami tak pernah mengeluh, tidak, sedikit pun kami tak pernah mengeluh.

Bagi kami Pak Harfan dan Bu Mas adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya. Merekalah mentor, penjaga, sahabat, pengajar, dan guru spritual. Mereka yang pertama menjelaskan secara gamblang implikasi amar makruf nahi mingkar sebagi pegangan moral kami spanjang hayat. Mereka mengajari kami membuat rumah-rumahan dari perdu apit-apit, mengusap luka-luka di kaki kami, membimbing kami cara mengambil wudu, melongak ke dalam sarung kami ketika kami disunat, mengajari kami doa sebelum tidur, memompa ban sepeda kami, dan kadang-kadang membuatkan kami air jeruk sambal.
Mereka adalah ksatria tanpa pamrih, pangeran keikhlasan, dan sumur jernih ilmu pengetahuan di ladang yang ditinggalkan. Sumbangan mereka laksana manfaat yang diberikan pohon filicium yang menaungi atap kelas kami. Pohon ini meneduhi kami dan dialah saksi seluruh drama ini. Seperti guru-guru kami, filicium memberi napas kehidupan bagi ribuan organisme dan menjadi tonggak penting mata rantai ekosistem.

Shakespeare dan “Saudara Wanitanya”

Shakespeare dan “Saudara Wanitanya”
Virginia Woolf

Ketika saya memperhatikan karya-karya Shakespeare di rak buku, saya menjadi berpikir bahwa apa yang dikatakan uskup benar, terutama mengenai satu hal: sama sekali tidak mungkin bagi seorang wanita yang berbakat sama dengan Shakespeare, pada jamannya, menulis karya-karya drama seperti yang telah dikerjakan Shakespeare.

Pada masa remajanya, Shakespeare masuk sekolah menengah. Di sekolah itu, ia belajar bahasa Latin, Ovid, Virgil dan Horace. Dia juga belajar unsur-unsur tata bahasa dam logika. Pada masa mudanya dia dikenal sebagai anak “liar” yang suka menguliti kelinci, dan berburu rusa. Dia juga dikenal kawin terlalu muda karena menghamili tetangganya, yang kemudian melahirkan anaknya pada usia remaja.

Petualangannya itu mendorongnya mengadu nasib ke London. Tampaknya ia mempunyai bakat di panggung. Ia memulai kariernya sebagai penjaga pintu panggung. Tak lama kemudian, ia mendapatkan peranan di panggung. Ia menjadi aktor yang berhasil, dan hidup di dunia yang gemerlapan, berkesempatan bertemu dengan orang-orang ternama., mengenal mereka, mulai dari kelas bawah, menengah, atas, dan akhirnya sampai ke istana ratu. Pengalaman dan pengamatannya terhadap berbagai perilaku manusisa dari berbagai tingkatan itu diterapkannya di panggung.

Sementara itu, wanita yang mungkin memiliki bakat yang sama dengan dia tinggal di rumah saja. Wanita ini sebenarnya sama-sama memiliki bakat bertualang, memiliki kemampuan imajinasi yang sama, dan sama-sama ingin “melihat dunia” seluas yang dirasakan Shakespeare. Tetapi pada jaman itu wanita tidak di sekolahkan. Jadi, ia tidak mempunyai kesempatan belajar bahasa Latin dan logika, apalagi membaca Ovid, Virgil dan Horace. Mungkin saja secara kebetulan dia mempunyai kesempatan melihat-lihat buku saudara laki-lakinya yang kebetulan tergeletak di meja, sehingga ia dapat melihat beberapa huruf dan kata pada buku itu. Tetapi, ayahnya akan segera memanggilnya untuk menjahit pakaiannya yang robek atau merajut kaos kakinya yang berlubang, bukannya mendorongnya untuk belajar membaca dan menulis.

Segera setelah si anak perempuan berangkat remaja, ia harus dikawinkan dengan anak tetangga. Tentu saja dia membenci perkawinan itu karena ia masih menyukai masa kanak-kanak dan remajanya. Ia menangis dalam kehidupan perkawinan itu. Tetapi sikap ini berakibat pahit baginya, sebab dengan menangis itu ia akan menerima cambukan dan dera yang lebih menyakitkan. Ketika ia menangis, ayahnya akan meminta kepadanya untuk tidak berbuat yang memalukan martabat orang tua. Sebagai imbalannya, orang tua akan membelikan pakaian dan perhiasan yang indah-indah. Dalam keadaan yang demikian, bagaimana si gadis tidak akan mengindahkan permintaan atau “paksaan” orang tuanya.
Katakanlah ia mau memberontak dan memberanikan diri kabur ke London seperti yang dilakukan Shakespeare.

Masyarakat belum siap menerima kehadiran wanita muda bertualang sendiri di kota besar. Walaupun ia memiliki bakat panggung yang sama, ketajaman pengamatan yang sama terhadap perilaku sosial, tak seorangpun yang akan mau menerimanya. Salah-salah ia bisa menjadi mangsa “manusia serigala malam” yang mengakibatkan kehamilan yang tak terawat. Ia akan kelaparan bersama bayinya dan mati di salah satu sudut kota.

Kebebasan Wanita

Kebebasan Wanita
Alice Oshima

Sejak pertengahan abad dua puluh, wanita di seluruh dunia mencari kebebasan dan pengakuan yang lebih besar. Mereka tidak lagi puas dengan peranan tradisionalnya sebagai istri dan ibu. Mereka bergabung membentuk gerakan yang kemudian disebut sebagai “gerakan kebebasan wanita.” Walaupun kekuatan dibalik gerakan internasional ini bervariasi dari satu budaya ke budaya lain dan dari satu individu ke individu yang lain. Di Amerika gerakan ini dapat dilacak dari adanya tiga peristiwa penting: perkembangan metode pengendalian kelahiran yang efektif, penemuan alat-alat otomatis penghemat tenaga untuk rumah tangga, dan pecahnya Perang Dunia II.

Sebab pertama dari timbulnya gerakan kebebasan wanita adalah adanya perkembangan metode pengendalian kelahiran yang efektif, yang membebaskan wanita dari siklus yang tak ada putus-putusnya yang telah mengungkung wanita, yaitu melahirkan dan merawat anak. Karena wanita sekarang mempunyai pilihan untuk mengatur kelahiran anak (jika mereka menghendaki), mereka memperoleh kebebasan dan mempunyai lebih banyak waktu untuk mengembangkan minat di luar dunia rumah tangga. Karena adanya perkembangan cara pengendalian kelahiran anak itu, wanita dapat menunda atau menghentikan sama sekali kelahiran anak. Akibatnya, wanita sekarang mempunyai lebih banyak kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi dan mengejar karier.

Peristiwa kedua yang menyebabkan timbulnya gerakan kebebasan wanita adalah adanya perkembangan alat-alat keperluan rumah tangga yang menghemat tenaga yang diproduksi secara besar-besaran. Karena adanya alat-alat ini, wanita lebih banyak memiliki waktu luang dan kebebasan. Misalnya sekitar enam puluh tahun yang lalu, seorang istri rata-rata menghabiskan waktu sekitar dua belas sampai empat belas jam sehari untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Karena penemuan mesin-mesin yang dapat menghemat tenaga rumah tangga, seperti: mesin pencuci pakaian, mesin pengisap debu, mesin pencuci piring, microwave, dan lain-lain, seorang ibu rumah tangga sekarang ini dalam waktu tidak lebih dari empat atau lima jam saja dalam sehari.

Hal ketiga yang mendorong terjadinya gerakan kebebasan wanita adalah pecahnya Perang Dunia II. Selama perang, sebagian besar orang laki-laki menjadi tentara. Dengan sendirinya, wanita terpaksa mengisi lowongan kerja yang sebelumnya diisi laki-laki. Beribu-ribu wanita terpaksa bekerja di pabrik dan bahkan ada yang mengambil alih pimpinan perusahaan yang biasanya diduduki laki-laki. Hal seperti ini merupakan perubahan yang sangat besar bagi wanita, karena mereka menjadi sadar bahwa mereka tidak hanya mampu membuat kue dan mengganti popok bayi, melainkan juga mengelas pesawat terbang dan memimpin perusahaan.
Tiga peristiwa penting di atas menanamkan benih-benih perubahan yang besar dalam masyarakat, dan pengaruhnya terasa pada semua tingkatan, pada keluarga, perusahaan, dan pemerintahan.

Salah satu pengaruh yang paling besar yang diakibatkan karena kebebasan wanita itu terasa dalam keluarga. Karena demikian banyaknya wanita yang bekerja, kaum pria harus belajar mengerjakan tugas-tugas rumah tangga yang biasanya dikerjakan wanita, seperti memasak, membersihkan rumah, dan bahkan merawat anak. Pada beberapa keluarga bahkan terjadi pembalikan peran: suami tinggal di rumah mengurus rumah dan anak, istri mencari penghasilan untuk keluarga. Tetapi hal ini harus disikapi sebagai suatu perkecualian, bukan sebagai aturan. Dalam berbagai latar belakang budaya, suami masih berperan sebagai pencarti nafkah, sedang istri masih berperan sebagai pengurus rumah tangga.

Pengaruh kebebasan wanita tidak hanya terasa dalam kehidupan rumah tangga. Tetapi juga terasa pada jenjang pekerjaan. Makin lama, makin banyak wanita yang bekerja, dan mereka menuntut persamaan kesempatan menempati posisi serta persamaan dalam menerima upah. Dewasa ini, bukan merupakan hal yang luar biasa jika kita dengar ada pimpinan perusahaan yang dijabat wanita. Banyak perusahaan yang mendorong wanita menempati posisi puncak, dan setiap tahun makin banyak pula wanita yang lulus dari perguruan tinggi, menjadi dokter, ahli hukum, ahli akuntansi dan lain-lain.

Politik dan pemerintahan merupakan bidang lain yang terkena dampak gerakan kebebasan wanita. Sudah ada wanita yang menduduki posisi puncak dalam pemerintahan di beberapa negara, seperti misalnya Filipina, Bangladesh, dan lain-lain. Tak terhitung lagi berapa jumlah wanita di dunia ini yang menduduki jabatan menteri. Undang-undang persamaan hak pun dengan sendirinya muncul untuk memenuhi tuntutan keadaan.

Kesimpulannya, wanita sekarang berhasil mencapai kebebasan yang lebih besar yang menyebabkan perubahan yang sangat besar di masyarakat- di rumah, di lapangan kerja dan di pemerintahan. Walaupun mungkin kaum pria tidak senang melihat adanya perubahan ini, mereka harus sadar bahwa sebenarnya perubahan itu ditimbulkan sendiri oleh kaum pria. Kaum prialah yang menyebabkan terjadinya perang, ilmuwan-ilmuwan prialah yang menemukan dan memperjualbelikan alat-alat rumah tangga yang dapat menghemat tenaga, dan akhirnya kaum pria pula yang menemukan alat-alat pengendali kelahiran.