Cerpen pertama


Cerita Sahabat Kecil

Aku ingin menulis sebuah kisah tentangmu sahabat-sahabat kecil ku. Cerita ini tentang kita, tentang masa itu, tentang persahabatan dan tentang kecerian kita masa dahulu. Karena Aku tahu masa itu tak kan kita ulangi kembali. Masih tentang mu Yusuf, Eko, Wawan, dan Deni. Ku tuliskan disini untuk meneruskan cita-cita kita, untuk kebahagiaan orang tua kita dan untuk kampung itu.

Tentang Deni lahir di kampung pandawa, tak ada alasan aku diberi nama itu. Ia tinggal dengan kedua orang tua ku, satu kakak dan adik. Kampung nan indah dan damai serta hidup guyun rukun bertetangga, ia mempunyai banyak sahabat disini. Mereka sering berkumpul dan bermain bersama. Setiap hari Deni mengawali kegiatan mulai dari sekolah, membantu ibu di rumah dan ayah di sawah, ia pun tak lupa untuk mengaji di mushala. Oh indahnya alam sejuk dan terasa penuh persaudaraan dan rasa saling menghormati sesama makhluk yang Allah. Seperti surga walau surga belum pernah melihat.

Deni terbangun lagi dari mimpinya, dia lihat waktu sudah menunjukkan pukul 06.00. Oh tidak katanya dalam hati, dengan cepat ia berlari ke belakang dan mengambil air whudu. Ibunya sayang pun tercengang melihat anak keduanya sibuk berlari kesana kemari.

Deni :” Ibu, kenapa Ibu lupa bangunkan Deni”.

Ibu:” Maaf nak ku sayang, Ibu sibuk hari ini, karena harus menyiapkan makanan untuk orang-orang yang bekerja di sawah”

Deni : ” Lantas…….Ibu tega melihat anaknya tidak sholat”

Ibu : ” Ya… Tentu Ibu tidak ikhlas lahir dan batin. Ayo ingat apa kata guru agamamu di sekolah. Shalat adalah ibadah utama yang disukai Allah SWT, dan bisa menyelamatkan kita dari neraka jahanam”

Deni : “ Ya…. tentu saja Aku mengingatnya ibu sayang

Ibu:” Sudah cepat sholat dan segera mandi, kakakmu tidak bisa mengantar ke sekolah biar nanti berangkat aja dengan Yusuf”

Deni :” Siap bos..”.

Deni pun pergi ke ruang sholat untuk melaksanakan rukun islam yang kedua. Setelah itu, berkemas menyiapkan buku pelajaran hari ini. Pendidikan Agama Islam, Matematika, dan Bahasa Indonesia. Tepat pukul 06.45. ia berpamitan pada Ibu karena ayahnya sudah pergi ke sawah dari pagi. Sedangkan kakaknya sibuk menyiapkan makanan untuk ayah dan para pekerja di sawah. Ibunya sibuk memakaikan seragam TK adiknya si sulung Rais Habin.

Deni :” Bu…. Aku berangkat dulu, Yusuf sudah datang”

Ibu:” Ya.. hati-hati di jalan nak”

Deni :” Assalamualaikum”

Ibu:” Walaikumsalam. Wr. Wb.”

Yusuf membawa sepeda jengki kesayangannya, hadiah khitanan Yusuf ketika naik kelas 5, padahal Deni sekarang sudah kelas enam belum juga dikhitan. Udara yang semilir seolah-olah menandakan musim gugur akan segera datang dan matahari pun cukup menguatkan tukang-tulang belakang mereka. Sepanjang perjalanan mereka pun tersenyum, seperti kata orang bijaksiapapun yang menabur senyum, dialah yang akan menuai cinta”. Dan selalu seperti itu senyum sahabat kecilku.

Yusuf:” Gimana PR Matematika cuy, dah selesai lum?”

Deni:” Tugas apa…!!!!, Aku lupa semalam selesai mengaji, ku langsung pergi ke rumah Wawan nonton bola di TV. Jadi mana ingat..”

Yusuf:” Huuuuppfffh…. Dasar anak indonesia sukanya nonton TV, bagaimana negara kita mau maju”

Deni:” Tapi kamu sudah selesaikan Suf?”

Yusuf:” Jangan bilang kamu mau menyontek Den!!”

Deni:” Tidak…. Tidak mungkin Aku menyontek, aku hanya ingin lihat soalnya saja sama contohnya”

Yusuf:” Awas aja.. kalo kamu bohong”

Deni:” Masa kau tega dengan Suf, bagaimana nanti kalo aku disuruh Bu Sri berdiri di lapangan upacara sampai jam pelajaran selesai, bisa kering ramput ku Suf”

Yusuf:” Hahahaha…… Sepertinya itu lebih baik bagi mu”

Deni:” Ah… Suf masa kau tak mau menolong sobatmu ini Suf”(sambil memasang muka memelas dan sedikit sedih)

Yusuf:” Ya…sudahlah kamu boleh lihat caranya tapi jangan jawabannya”

Deni:” Gimana ya… kalau itu yang terbaik Aku setuju saja deh, dari pada nantinya sengsara”

Yusuf:”Huuuhhhh…….. Dasar maunya enak terus..”.

Sesampainya di sekolah, kami langsung menuju ke dalam kelas yang sudah ramai. Kami lupa kalau hari ini adalah hari senin dan kelas ku 6B yang menjadi petugas upacara. Dengan cekatan Deni langsung mengambil buku Matematika di tas Yusuf dan lekas mengerjakannya. Lima soal matematika sudah terselesaikan. Eko sekaligus ketua kelas 6B, menghampiri Deni dan membisikan sesuatu, sepertinya ada berita kurang baik bagi Deni.

Eko:” Deni…. My best friend. Hari ini kamu tampan sekali, kau cocok jadi pemimpin upacara hari ini”

Deni:” Apa..!!!(kaget). Ah pasti kau bercanda”

Eko:” Tidak… Aku serius”

Deni:”Siapa yang menyuruh ku menjadi pemimpin upacara?”jawabku dengan nada mengelak

Eko:” Aku disuruh Pak Wandi”( guru yang dikenal galak tetapi dekat dengan muridnya)

Deni:” Eko, apa kau lupa dulu ketika aku disuruh jadi pembawa teks Pancasila saja, kaki gemetaran dan celana ku basah karena air kencing”

Eko:” Tapi itu kan dulu Prend… Sekarang kamu harus buktikan pada mereka kelas 6A, Bahwa Kamu Bisa. Sekaligus kamu tunjukan tuh pada cewek-cewek SD Pandawa Lima”. Hehehehe……(ketawa lebai sambil mengejek Deni, dan terasa dongkol dalam hati)

Deni:” Oke….Aku tunjukkan siapa sebenarnya Deni Supriyadi, Pahlawan Nasional Pembela Tanah Air(PETA), lihat saja nanti siapa yang berdiri di tengah lapangan dengan wajah tegap layaknya pahlawan nasional. Pasti mereka berkata: Deni ganteng hahahaha…..”

Eko:” Sippp… itu baru sobat ku. Cepat pakai topi mu dan rapikan dasimu”

Deni:” Siap pak!!”.

Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah Deni menjadi pemimpin upacara. Dalam hatinya berbisik rasa tidak percaya diri, tapi ia sekarang sudah kelas enam sebentar lagi juga SMP dan keberaniannya maju melangkah. Walaupun Deni belum disunat. Tapi kita harus yakin bisa mengadakan perubahan dimana berada.

Akhirnya selesai juga upacara yang menyebalkan dan membuat Deni hampir mengulang waktu itu(sejarah terindah). Upacara berlangsung lancar dan sukses, tak terulang kejadian sewaktu ia masih kelas empat dulu. Deni menemui dua sahabatnya di kelas yang masih saja membahas tentang dirinya. Tanpa menegur Yusuf dan Eko, langsung saja ia duduk manis di kursinya.

Yusuf:” Yo.. Hebat yo sahabat kita ini(sambil tetap tersenyum sungging)

Eko:” Iyalah siapa dulu… Deni”

Deni:” Ehmmm…….Puas kalian menertawakan aku”(melirik ke arah yusuf dan eko )

Eko:” Bukan begitu Den, Cuma tadi kami tidak tahan melihat wajahmu seperti kepiting rebus. Ups… Maaf boy bercanda… hehehe…”

Deni:” Kalian tidak tahu ya rasanya di depan tadi”

Yusuf:” Maaf Den kami tak mau dengar ceritamu, hehe.. Tapi kami bangga kepadamu. Kamu berhasil jadi pemimpin upacara. Sip deh pokoknya.. benarkan ko? ”

Eko:”Yups benar banget… Luar biasa pokoknya”

Deni:” Apa iya?”

Yusuf:” Iya Den, sudah tidak usah dipikirkan lagi. Ohya gimana dengan tugas Bu Sri”

Deni:” Astagfirullah..(sambil menepuk kening sendiri). Tadi aku kan baru dapat nomor lima jadi masih kurang lima lagi. Huffhhh… gara-gara tugas jadi pemimpin upacara PR ku jadi ketinggalan, menyebalkan”.

Eko:” Yach sudah.. cepat kamu kerjakan sebentar lagi jam pelajaran masuk”

Dengan perasaan kacau Deni melanjutkan pekerjaan Matematikanya yang belum selesai. Yusuf dan Eko memberikan semangat dengan sekali-kali menakuti kalau Bu Sri sudah datang. Tak lama kemudian tugas tersebut selesai, hari itu benar-benar membuat Deni merasa tersiksa dengan kejadian-kejadian yang dialami selama di sekolah. Dan hari terkenang sampai sekarang. Rasa lelah dan kegiatan selama di sekolah tak terasa hingga kembali di rumah tercinta.

Deni:” Assalamualaikum…”( sambil mencium tangan kanan ibunda tercinta)

Ibu:” Walaikumsalam.. kenapa cemberut gitu Nak”

Deni:” Aku tadi mendapatkan tugas jadi pemimpin upacara, Ibu tahu kan Aku paling takut berdiri di depan orang banyak”

Ibu:” Oooo… begitu tho. Deni harusnya bangga jadi pemimpin. Tidak semua orang bisa menjadi pemimpin seperti mu nak”

Deni:” Tapi Aku kan pemalu Bu…”

Ibu:” Anak ibu kan sudah kelas enam, bentar juga lagi SMP. Terus katanya mau di khitan. Hehe…, sekarang cepat ganti baju dan jangan lupa shalat terus makan”

Deni:” Siap Mam..”(sambil hormat dan berlari ke dalam kamar).

Dan ibunya hanya geleng-geleng kepala melihat anak kesayangannya)

Siang itu dua sahabatnya berkunjung ke rumah. Ternyata Wawan dan Eko teman sejak kecil mulai dari TK. Jika Eko masih satu SD dengan Deni, sedangkan wawan masuk sekolah Madrasah Ibtidaiyah.

Eko:” Deni… Deni… maen yuk!”

Wawan:” Hus.. Kamu ini ko, nggak sopan. Menurut bapak ku ke rumah orang lain harus mengucapkan salam. Kalau tidak nanti disangka maling. Kamu mau?”

Eko:” Maaf Pak.Ustad hehe…”.

Dari dalam terdengar jawaban salam dari Ibu Murwati, Ibunya Deni.

Ibu:” Walaikumsalam…

Wawan:” Bu…. Deninya ada?”

Ibu:” Ada sekarang lagi makan, ayo ikutan makan?”

Eko:” Ayo Wan, kita kan tadi lum sempat makan di rumah” (ajak eko kepada wawan)

Wawan:” Gak sopan tahu Ko, makan tempat orang” (berkata lirih pada Eko)

Ibu:” Iya ga apa-apa, apalagi kalian sudah ibu anggap sebagai anak sendiri”

Eko:” Tuh kan boleh Wan”

Akhirnya mereka makan bersama di rumah Deni. Setelah selesai makan mereka bergegas berangkat ke lapangan sepak bola yang berada di belakang rumah Deni. Di lapangan ternyata sudah menunggu teman-teman yang lain, tenyata ada Yusuf(sahabat Deni). Rupanya hari itu ada pertandingan antara anak-anak blok yang sudah menjadi kegiatan setiap sore. Hari pertandingannya blok wetan(Timur) melawan anak-anak blok kidul(selatan). Sebelum pertandingan mereka bersalaman walaupun hampir tiap hari kami bertemu di sekolah. Pertandingan pun dimulai saling serang antara blok kidul melawan blok wetan. Bola satu menjadi rebutan, iya seperti itu emang sepak bola permainan yang digilai oleh hampir semua orang di seluruh penjuru dunia. Cukup seru, perebutan bola tak dapat dihindarkan. Sebuah tendangan pisang dari Nanto kapten tim wetan mampu memimpin skor 1-0. Sedangkan kami, terus berusaha untuk mengejar ketinggalan. Eko terlihat bermain egois, ketika bola ada padanya dia tak mau mengumpan dan sebaliknya ketika bola berhasil direbut lawan dia tidak mau mengejarnya. Yusuf, mulai kesal dengan hal itu.

Yusuf:” Stop! Aku tidak mau main lagi”

Wawan:” Kenapa Suf?”

Deni:” Iya aku juga malas bermain lagi”

Eko:” Ada apa sich?”

Deni:” Ko kita kan main satu tim, bukan main sendiri gitu, jadi aku dan teman yang lain juga ingin main. Apalagi tim kita sedang kalah!”

Eko:” Abisnya kalian kurang cepat dalam lari jadi aku bawa sendiri aja!”

Wawan:” Tapi mereka lebih mudah merebut bola dari mu, coba kalau kasih ke teman yang lain?”

Yusuf:” Alah kamu Ko,.. Seenaknya sendiri. Terus kenapa bola waktu di mereka kamu tak merebutnya”

Wawan:” Sudah-sudah jangan bertengkar, mendingan kita harus bersatu dan menyiapkan strategi untuk mengalahkan blok wetan. Setuju?”

Deni, Yusuf, dan Eko setuju dengan usul dari Wawan. Akhirnya Eko mau bekerja sama. Blok kidul berhasil menang dengan skor 4-3 gol dicetak oleh Eko dua gol, 1 gol oleh Akudan satu gol lagi oleh Yusuf. Mereka pulang dengan wajah ceria dan bangga atas kemenangan yang didasarkan persahabatan yang pada diri mereka. Dan selalu begitu main bola, hampir setiap waktu kami memenangkan pertandingan jarang sekali kalah.

Malam pun datang bulan tak mengeluarkan cahayanya. Setelah pulang mengaji dengan ustad Badrun. Eko berjanji akan datang ke rumah Deni, Eko memberanikan diri untuk bermain ke rumah Deni. Padahal Eko terkenal sebagai penakut, tapi seketika hilangrasa takut itu lantaran ada rencana kegiatan syukuran kemenangan pertandingan bola sore tadi. Eko berlari kencang layaknya dikejar seekor anjing dan didorong rasa takut. Sesampai di rumah Deni, Eko langsung mengetuk pintu dan mengucapkan salam.

Eko:” Assalamualaikum..”

Deni:” Walaikumsalam..”

Eko:” Sebelum aku jawab boleh aku minta minum Den..?”

Deni:” Iya masuklah biar nanti aku ambilkan..”

Eko:” Makasih Den..”

Eko:” Iya tadi aku dari ke rumah lari kesini. Di luar gelap sekali Den..?”

Yusuf:” Iya kamu kan penakut hehe…”

Deni:” Ini minumnya”

Eko:” Makasih Den aku juga mau minta maaf tadi aku mainnya egois, seharusnya kita harus kerja sama..”

Wawan:” Ya sudah.. yang pentingkan kita menang..”

Deni, Eko, dan Yusuf mengamini. Tiba-tiba Ibunya Deni keluar membawa makan malam sebagai tanda perayaan kemenangan kami sekaligus sebagai rasa kebersamaan yang tak lekang oleh waktu.

Ibu :” Sudah ngobrolnya … Ayo makan dulu setelah baru boleh dilanjut… Oke?”

Semua:” Oke bos….” (sripendowo,post)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s