Menyongsong Lailatul Qadr…


Apa yang dilakukan orang yang sedang berselisih di malam Lailatul Qadar?

Apabila ada dua orang yang sedang berselisih di bulan Ramadhan, maka perselisihan itulah yang akan menjauhkan mereka dari malam Lailatul Qadar. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi?

Dari Ubadah Ibnu Shamit ra.: ketika itu Nabi keluar untuk mengabarkan kepada kami tentang datangnya Lailatul Qadar, maka nampaklah dua orang Muslim yang saling mencela di hadapanya, maka beliau bersabda: “Ketika aku keluar rumah untuk mengabarkan kepada kalian tentang malam Lailatul Qadar, maka muncullah dua orang si Pulan dan si Pulan yang saling menyela, maka aku urung mengabarkan kedatangan malam Lailatul Qadar kepada mereka. Semoga hal tersebut menjadi pelajaran yang baik bagi kalian, maka temukanlah malam tersebut pada malam ke sembilan, tujuh, dan lima”

Lailatul Qadar tidak akan hilang dikarenakan perselisihan, akan tetapi Allah akan menjauhkannya dari mereka yang sedang berselisih, dengan dalil hadis di atas: “Dapatkanlah (Iltamasuha). Kemudian Rasulullah kembali menjelaskan, bahwa Lailatul Qadar akan menjadi lebih baik untuk tidak di ketahui kapan datangnya “Semoga hal tersebut menjadi pelajaran yang baik untuk kalian” Karena dengan tidak diketahuinya malam tersebut secara tidak langsung orang akan mengisi siang dan malamnya selama sebulan penuh (setidaknya sepuluh hari terakhir) untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah, berbeda seandainya waktunya telah ditentukan dan diketahui banyak orang.

Arti dari “Saling mencela (Talaahaa)”; adalah saling bermusuhan dan mencela, pada riwayat lain disebutkan: “Maka datang dua orang laki-laki yang saling bermusuhan dan terlihat syaitan bersama mereka” Imam Hafidz Ibnu Hajar mengatakan dalam keterangan kitabnya apa yang di simpulkan oleh Imam Subukiy dalam kisah ini: “Bagi mereka yang melihatnya dianjurkan untuk tidak membicarakannya kepada orang lain”

Karena dengan tersembunyinya malam Lailatul Qadar akan melahirkan hikmah yang sangat banyak, apabila dipandang dari sisi kejiwaan maka malam Lailatul Qadar, akan memupuk jiwa positif dan sikap optimis pada diri seseorang, dari sisi penanaman budi, maka seseorang akan menjauhkan dirinya dari sifat riya, dengan tidak harus membicarakan kepada orang lain dengan niat sombong. Dalam Al-Quran Allah berfirman (dalam perkataan Ya’qub): “Wahai anakku, janganlah engkau ceritakan mimpimu itu pada saudara-saudaramu yang lain”

Apabila perselisihan tersebut menyebabkan malam lailatul Qadar terselubung dan hanya menjadi rahasia Tuhan, secara tidak langsung perselisihan telah menghapus kebaikan, maka seyogyanya bagi umat Muslim untuk saling mengasihi dan menyayangi sampai ia mencintai orang lain seperti mencintai dirinya sendiri. Dan barang siapa yang sedang berselisih, maka hendaknya bercepat untuk menyelesaikannya. Bagi mereka yang terputus tali persaudaraannya dengan sahabat, kerabat dan handai taulan, maka hendaklah ia menyambungkan kembali tali persaudaraan itu. Jangan membiarkan perselisihan memutuskan tali persaudaraan, mencerai-beraikan cinta kasih dan sayang diatara saudara satu agama.

Karena kebaikan di atas bumi akan hilang disebabkan permusuhan dan percekcokan, dan kebaikan akan tumbuh seiring dengan kasih sayang dan cinta kasih yang tumbuh terhadap sesama manusia “Orang yang mencintai sesamanya akan di cintai Tuhannya”

Oleh : Ivoel Rey Kidaichi

(Disunting dari al-Shiyâm fî ‘l-Islam, karya Dr. Ahmad Umar Hasyim. Penyunting dan alih bahasa: Yessi Afdiani NA./Editor DO)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s