Pembinaan Moral Guru


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Salah satu cara yang dikedepankan dalam peningkatan kemampuan profesional guru Sekolah Dasar adalah supervisi klinik. Supervisi klinik merupakan suatu strategi yang sangat berguna dalam supervisi pembelajaran sebagai peningkatan suru kemampuan profesional guru. Namun untuk menjadi guru yang profesional seseorang dituntut untuk memiliki kemampuan profesional dan juga motivasi kerja. Seorang guru yanmg profesional tidak hanya dituntut memiliki kemampuan tetapi juga kemauan. Dengan perkataan lain, memiliki kemampuan saja dalam hal mengajarbelumlah cukup untuk menjadi seorang guru yang profesional, tetapi harus juga diimbangi dengan pemilikan semangat atau moral kerja yang tinggi.

Di dalam makalah ini dibahas pentingnya pembinaan moral kerja guru, pengertian moral kerja guru, pengertian dan tujuan pembinaan moral kerja guru, dan berbagai strategi pembinaan moral kerja guru.

B. Tujuan
Setelah mempelajari makalah ini diharapkan pada mahasiswa untuk mampu :
1. menjelaskan pentingnya pembinaan moral kerja guru
2. memahami pengertian moral kerja guru
3. memahami pengertian dan tujuan pembinaan moral kerja guru
4. memahami berbagai strategi pembinaan moral kerja guru.

BAB II
PEMBINAAN MORAL KERJA GURU SEKOLAH DASAR

A. Pentingnya Pembinaan Moral Kerja Guru
Ada hubungan antara moral kerja dengan produktivitas seseorang. Seorang guru yang memiliki moral kerja yang tinggi akan produktif, yaitu menghasilkan sesuatu yang lebih baik dari hasil kerjanya dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.

1. Tugas dan Tanggung Jawab Guru
Tugas dan tanggung jawab seorang guru tidaklah mudah, sehingga dalam kesehariannya seorang guru seringkali menghadapi berbagai problema. Secara proses, problema tersebut akan selalu muncul pada tiga periode, yaitu periode sebelum aktivitas mengajar (preinstructional activities), periode aktivitas mengajar (instructional activities), dan periode setelah aktivitas mengajar (postinstructional activities).

Problema-problema yang muncul sebelum mengajar berupa bagaimana merencanakan suatu sistem pengajaran yang baik, seperti bagaimana cara merumuskan tujuan pengajaran secara spesifik dan operasional.

Pada saat mengajar, problema yang seringkali muncul ialah bagaimana menciptakan suatu sistem pengajaran sesuai dengan yang telah direncanakan, seperti bagaimana mengelola kelas dengan sebaik-baiknya, bagaimana mengatasi murid-murid yang nakal, bagaimana memotivasi belajar murid-murid, bagaimana menggunakan metode dan alat bantu mengajar, serta bagaimana membuka dan menutup pelajaran yang baik.

Lain halnya pada saat setelah mengajar, problema yang muncul berupa bagaimana menentukan keberhasilan pengajaran yang telah dilakukannya, antara lain ialah bagaimana mengukur keberhasilan murid-murid dalam mencapai tujuan performa pengajaran, standar apa yang akan digunakan dalam mengukur keberhasilan murid-murid, bagaimana menganalisis hasil pengukuran tersebut, serta bagaimana melaporkan hasil pengukuran baik kepada murid-murid yang bersangkutan maupun puhak lain yang berhak menerima laporan hasil pengukuran.

Untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab dalam menghadapi problema itu, seorang guru harus memiliki moral kerja yang tinggi. Seorang guru dituntut memiliki kedisiplinan yang tinggi, tidak menyia-nyiakan waktu dalam mengajar dengan kegiatan-kegiatan lain yang tidak relevan dengan tugas mengajarnya. Seorang guru dituntut untuk mampu mengajar dengan tenang sehingga dapat menyampaikan materi pelajaran secara sistematis dan mudah dipahami oleh semua murid. Guru harus mampu mengajar dengan penuh antusias, kegembiraan, dan penuh gairah sehingga akan menimbulkan daya tarik sendiri bagi murid-muridnya. Guru yang memiliki moral kerja yang tinggi tentu memiliki daya kreativitas dan inisiatif yang tinggi pula dalam memperbaiki kegiatan-kegiatan kependidikan.

2. Tugas dan Tanggung Jawab Kepala Sekolah
Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan setiap harinya memiliki tugas pokok mempengaruhi, mendorong, mengajak guru-guru dan staff lainnya agar bersedia berbuat sesuatu yang dapat menyokong pencapaian tujuan sekolah sebagai suatu institusi.

Disamping itu, ada pula tugas dan tanggung jawab kepala sekolah yang berkenaan dengan penciptaan suasana yang menyenangkan sehingga dapat menumbuhkan moral kerja guru-guru maupun staff lainnya. Bentuk operasional dari pelaksanaan tugas dan tanggung jawab ini misalnya :
a. berusaha memahami karakteristik setiap guru dan staff lainnya berupa perasaannya, keinginan, pola berpikir, dan sikap.
b. Menciptakan kondisi kerja yang menyenangkan, baik kondisi fisik maupun sosialnya.
c. Memupuk rasa kerjasama yang baik antara kepala sekolah dengan guru, guru dengan guru, maupun dengan stff lainnya sehingga tercipta suatu kelompok kerja yang produktif dan kohesif.
d. Memupuk rasa ikut memiliki, rasa adanya peranan yang cukup pentiung, dan rasa sebagai orang yang berhasil pada setiap diri guru maupun staff lainnya.

B. Pengertian Moral Kerja
Secara umum moral kerja dapat diartikan sebagai suatu sikap dan tingkah laku yang terwujud dalam bentuk semangat seseorang dalam kerjanya. Oleh karena moral kerja merupakan semangat kerja maka moral kerja sangat mempengaruhi produktivitas seseorang.

Lucio bersama Neil menjelaskan sebagai berikut : Moral was regarded as the attitude and behaviour which denoted a willingness to be involved in school and its work. (Lucio dan Mc Neil, 1962:133).

Penjelasan di atas pada dasarnya menegaskan bahwa moral sebagai suatu sikap dan tingkah laku yang merupakan perwujudan suatu kemauan yang dibawa serta ke sekolah dan kerjanya. Moral kerja seseorang merupakan perwujudan kemauan seseorang melalui sikap dan tingkah laku.

Suatu pandangan lain tentang moral kerja adalah adanya suatu anggapan bahwa moral itu sebagai suatu semangat usaha kelompok (team effort). Pandangan ini dikemukakan oleh Harris dalam sebuah buku yang berjudul Supervisory Behaviour in Education, sebagai berikut : Morale is ussually envisioned as a group or organizational phenomenon which is characterized by the willingness of the group to work together for a common (organizational) goals. (Harris, 1963 ; 348)

Moral kerja itu tidak hanya dipandang secara individual dari setiap guru tetapi dapat dipandang secara keseluruhan sebagai kerja sekolah. Moral diasosiasikan dengan team effort yang dipertentangkan dengan individual striving. Seberapa besar atau seberapa tinggi kemauan seluruh anggota organisasi atau lembaga untuk bekerja bersama-sama dalam rangka mencapai tujuan organisasi atau lembaga, itulah permasalahan moral kerja.
Ada beberapa hal pokok yang perlu kita beri penekanan sehubungan dengan moral kerja. Pertama, moral itu pada dasarnya suasana bathin seseorang. Kedua, suasana bathin seseorang tersebut terwujud dalam bentuk sikap dan tingkah laku dimana ia sedang menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sehari-hari. Ketiga, oleh karena suasana bathin tersebut terbawa dalam setiap dimana ia menjalankan tugas dan tanggung jawabnya, dapat dipastikan akan sangat mempengaruhi pencapaian tujuan individu maupun tujuan organisasi. Keempat, yang dimaksud dengan suasana bathin adalah perasaan senangatau tidak senang, bergairah atau tidak bergairah, dan berkemauan keras atau tidak berkemauan keras dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.

Moral kerja seseorang tidak dapat dirasa, btidak dapat diraba, dan tidak dapat dilihat, tetapi kita bisa menentukan seberapa tinggi moral kerja seseorang dengan cara mengobservasi hati-hati bagaimana seseorang itu bertindak. Dengan demikian, untuk menentukan seberapa tinggi moral kerja seorang guru, kepala sekolah selaku administrator sekolah, pemimpin pendidikan, dan supervisor pendidikan dapat melakukan observasi terhadap bagaimana guru tersebut dalam mengerjakan tugasnya sehari-hari.

C. Pengertian dan Tujuan Pembinaan Moral Kerja Guru
Moral kerja guru diartikan sebagai sikap dan tingkah laku seorang guru yang terwujud dalam bentuk semangat kerjanya (Bafadal 2003:90). Moral kerja guru sangat berpengaruh terhadap produktivitas sekolah. Menurut Thomas dalam Mulyasa (2002) produktivitas sekolah dapat ditinjau dari tiga dimensi yaitu:
a. produktivitas sekolah dari segi keluaran administrasi
b. produktivitas sekolah dari segi perubahan tingkah laku
c. produktivitas sekolah dari segi keluaran ekonomi/pembiayaan pelayanan pendidikan
Moral kerja seorang guru bisa rendah atau bisa tinggi. Menurut Nick Cowell dan Roy Gardner (1994) guru yang memilki moral kerja yang tinggi berarti guru tersebut memiliki percaya diri yang tinggi, menyenangi pekerjaannya, dan menikmati pekerjaannya. Sedangkan menurut Bafadal (2003) guru yang memiliki moral kerja yang tinggi kemungkinan besar akan produktif, yaitu menghasilkan sesuatu yang lebih banyak dan lebih baik, artinya guru yang memiliki moral kerja yang tinggi kemungkinan besar akan menghasilkan banyak peserta didik yang berkualitas dan berprestasi.

Ada beberapa pakar yang menegaskan bahwa pada prinsipnya pembinaan moral kerja dapat diidentikkan dengan pemberian dorongan yang merupakan salah satu fungsi manajemen. Pembinaan moral kerja guru adalah segenap usaha membina dan meningkatkan semangat dan kegairahan kerja guru-guru agar mereka lebih berprestasi dalam melaksanakan tugasnya.

Tujuan pembinaan moral kerja guru adalah agar guru memiliki moral kerja yang tinggi. Seorang guru yang memiliki moral kerja yang tinggi memiliki indikator sebagi berikut :
a. berdisiplin, tidak sering terlambat hadir di sekolah/di dalam kelas
b. menyayangi waktu, (tidak menggunakan waktu untuk melakukan hal-hal yang tidak penting)
c. saat mengajar bersikap tenang, antusias, teliti, adil, ramah, suka membantu murid-muridnya yang mengalami kesulian belajar, dan menerima keadaan muridnya apa adanya. Menurut hasil survey, guru seperti ini sangat disukai oleh murid-muridnya.
d. berkomitmen tinggi, bertekad untuk memberikan perhatian yang sangat besar dan waktu yang banyak terhadap perkembangan /kemajuan belajar murid-muridnya.
e. bertanggung jawab, dapat menyelesaikan tugasnya tepat waktu baik tugas pokok maupun tugas tambahan yang diberikan pimpinan kepadanya dan berusaha menyelesaikan tugas tersebut dengan sebaik-baiknya.
f. mandiri atau bekerja tanpa harus selalu mengharapkan bantuan dari pimpinan
g. kreatif, mampu menciptakan pembelajaran yang efisien dan efektif
h. suka bergaul denga rekan kerja dan stakeholder (masyarakat)
i. mampu menyimpan rahasia jabatan
j. dapat membedakan antara urusan pribadi dengan urusan pekerjaan (dinas)
Sedangkan indikator seorang guru yang tidak memiliki moral kerja yang tinggi (moral kerja rendah) antara lain :
a. sering datang terlambat dan pulang sebelum waktunya
b. kurang bergairah (malas), sering melamun, suka menyendiri, tidak mau bekerja sama dengan orang lain, sering berbuat kesalahan tetapi tidak berusaha untuk memperbaikinya
c. Mengerjakan pekerjaan karena terpaksa
Meskipun dikatakan bahwa tujuan pembinaan moral kerja guru adalah agar guru memiliki moral kerja yang tinggi, tetapi tujuan akhirnya adalah harapan agar guru berprestasi dalam melaksanakan tugasnya. Untuk menjadi seorang guru yang berprestasi tidak hanya dituntut memiliki kemampuan tetapi juga harus memiliki kemauan yang tinggi untuk berprestasi.
D. Berbagai Teori Kebutuhan
Dalam menetapkan strategi pembinaan moral kerja guru harus didasarkan pada pemahaman terhadap tiga hal. Pertama, harus memahami apa sebenarnya hakikat moral kerja secara konseptual. Kedua, harus mampu menganalisis kebutuhan manusia umumnya dan guru khususnya. Ketiga, harus memahami langkah-langkah manajerial dalam upaya mengidentifikasi alternatif strategi pembinaan moral kerja guru.

Seseorang yang melakukan aktivitas tertentu selalu didorong oleh motif-motif tertentu baik yang bersifat subjektif maupun objektif. Adapun yang menjadi motif seseorang untuk bekerja adalah kebutuhan-kebutuhan yang menimbulkan suatu tindak perbuatan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut.

Kebutuhan seseorang diharapkan dicapai melalui pekerjaan. Apabila kebutuhan seseorang dapat dicapai melalui pekerjaannya, baik itu d kantor, sekolah, sawah, pabrik, maupun di tempat laiinya, orang tersebut akan merasa puas dan akan melakukan pekerjaannya dengan sebaik-baiknya dimana orang tersebut bekerja.

Berikut ini akan dikemukakan beberapa teori kebutuhan manusia, sehingga dapat dijadikan dasar pertimbangan dalam menjawab permasalahan “Apa sebenarnya yang dibutuhkan guru-guru melalui pekerjaannya?”

1. Teori Kebutuhan Menurut Clayton P.Alderfer
Menurut Alderfer ada tiga kebutuhan manusia, yaitu kebutuhan akan eksistensi, kebutuhan relasi, dan kebutuhan akan perkembangan. Kebutuhan eksistensi mencakup segala macam kebutuhan material dan psikologis,seperti makanan, minuman, pakaian, uangkan. rumah, seks, dan kondisi kerja yang menyenangkan. Kebutuhan relasi merupakan kebutuhan setiap manusia untuk mengadakan hubungan sosial seperti hubungan dengan segenap anggota keluarga, tetangga, pimpinana, bawahan, dan dengan teman sejawat. Sedangkan kebutuhan akan perkembangan berkenaan dengan produktivitas, seperti menginginkan dirinya semakin pintar, terampil, berhasil mengerjakan tugas hidupnya sehari-hari.

2. Teori Kebutuhan Menurut Abraham Maslow
Menurut Maslow ada lima macam kebutuhan manusia. Pertama, adalah kebutuhan fisiologis, yang merupakan komparasi kebutuhan fisiologi secara universal seperti makan, minum, pakaian, perumahan, dan seksual. Kedua, kebutuhan rasa aman, dimana kebutuhan ini berhubungan dengan kebebasan bathin, seperti merasa tidak terganggu atau terancam, dan lain sebagainya. Ketiga, yaitu kebutuhan sosial, berkenaan dengan masalah-masalah hubungan sosial seperti mencintai, saling memiliki, dan ingin diterima di kelompoknya. Keempat, yaitu kebutuhan harga diri, dimana seseorang menginginkan keteguhan, stabilitas, dan nilai yang lebih tinggi untuk nya, sehingga ia merasa lebih tinggi atau lebih berharga dari orang lain. Kebutuhan tingkat kelima dan yang paling atas menurut Maslow adalah kebutuhan aktualisasi diri, yaitu kemampuan merealisasikan apa yang didambakan.

3. Teori Kebutuihan Menurut David C. McClelland
McCllelland mengklasifikasikan kebutuhan-kebutuhan dasr manusia ke dalam tiga golongan, yaitu :
a. kebutuhan kekuasaan, mencakup segala kebutuhan manusia untuk memperoleh kedudukan-kedudukan tertentu atau jabatan dalam lingkungan kerjanya.
b. kebutuhan afiliasi, mencakup kebutuhan untuk berhubungan sosial dengan orang lain, saling memiliki dan menerima.
c. kebutuhan keberhasilan, mencakup segala kebutuhan untyuk berprestasi dalam kerjanya, dan merasa berkembang dalam jabatannya.

4. Teori Kebutuhan Menurut Frederick Herzberg
Penelitian Herzberg dilakukan di Pittsburg. Sebagai respondennya adalah para insinyur dan akuntan. Pertanyaan awal dari penelitian ini adalah “Apakah terdapat faktor-faktor yang berbeda sebagai penyebab kepuasan kerja dan ketidakpuasan kerja?” (Herzberg, 1966). Setelah penelitian tersebut selesai diperoleh suatu kesimpulan bahwa ada dua kelompok faktor yang membuat kepuasan dan ketidakpuasan, dimana kedua kelompok ini bersifat saling eksklusif. Dengan kata lain, masing-masing kelompok faktor ini memberikan kontribusi yang berbeda terhadap kerjanya. Kedua kelompok faktor tersebut adalah :
a. Faktor-faktor yang ketidakberadaannya akan menimbulkan ketidakpuasan, tetapi belum tentu menimbulkan kepuasan seseorang terhadap kerjanya. Faktor-faktor ini oleh Herzberg disebut Hygiene factors yang dapat diterjemahkan menjadi faktor-faktor penyehat. Adapun yang termasuk faktor-faktor penyehat ini meliputi hubungan antarpribadi, keamanan kerja, kehidupan pribadi, kebijakan dan administrasi, kemungkinan untuk tumbuh, gaji, status, supervisi yang bersifat tekhnikal, dan kondisi kerja.
b. Faktor-faktor yang ketidakberadaannya akan mengurangi kepuasan, sedangkan keberdaannya akan menimbulkan kepuasan seseorang terhadap kerjanya. Faktor-faktor ini oleh Herzberg disebut motivation factors yang dapat diterjemahkan menjadi faktor-faktor motivasi. Adapun yang termasuk faktor-faktor motivasi ini meliputi prestasi kerja, promosi, tanggung jawab, pengakuan, dan kerja itu sendiri.

E. Apa yang diinginkan Guru Melalui Kerjanya
Kimball Wiles (1955) dalam bukunya yang berjudul Supervision for Better School, menegaskan bahwa ada delapan hal yang diinginkan oleh guru melalui kerjanya, yaitu adanya rasa aman dan hidup layak, kondisi kerja yang menyenangkan, rasa diikutsertakan, perlakuan yang wajar dan jujur, rasa mampu, pengakuan dan penghargaan atas sumbangan, ikut ambil bagian dalam pembentukan kebijakan sekolah, dan kesempatan dalam mempertahankan self respect.
1. Rasa aman dan hidup layak
Adanya jaminan ketercukupan akan makan, pakaian, dan perumahan bagi diri guru maupun keluarganya sehingga mereka bisa hidup sebagaimana orang lain hidup secara layak. Sedangkan rasa aman berkenaan dengan kebebasan dari tekanan-tekanan bathin, rasa takut akan masa depannya, serta adanya jaminan kesehatan

2. Kondisi kerja yang menyenangkan
Kondisi kerja yang menyenangkan seperti tempat kerja yang menarik, bersih, dan rapi, perlengkapan yang cukup serta adanya bimbingan.

3. Rasa diikutsertakan
Setiap orang ingin merasa dirinya termasuk dalam anggota kelompoknya dimana ia bekerja dan berhasrat untuk bergabung mencapai prestasi yang lebih baik. Seorang pemimpin harus memberi kesempatan kepada anggotanya untuk memperbaiki serta menjalin hubungan sosial dengan rekan-rekan kerjanya.

4. Perlakuan yang wajar dan jujur
Seorang pemimpin bertugas membina persatuan antara anggotanya. Hendaknya diusahakan agar dalam kelompoknya tidak ada clique. Perlakukan setiap anggota dengan wajar dan adil. Janganlah sekali-kali pilih kasih, dimana hanya anggota tertentu saja yang mendapatkan perhatian. Jika kelompok merasa bahwa hanya anggota tertentu saja yang mendapatkan perhatian, lenyaplah semangat kerja kelompok.

5. Rasa mampu
Setiap anggota kelompok menginginkan agar prestasi mereka diakui oleh pemimpin. Dalam hal ini pemimpin memngakui bahwa setiap anggota kelompoknya memberikan sumbangan yang sangat berarti dalam mencapai tujuan kelompok. Kepala sekolah harus selalu menghargai dan mengakui setiap hasil kerja guru.

6. Pengakuan dan penghargaan atas sumbangan
Setiap orang bahkan guru menginginkan agar segala jerih payahnya, yang ia lakukan demi kesuksesan sekolah, diakui oleh kepala sekolah maupun guru-guru lainnya. Apabila keinginan untuk diakui tersebut terpenuhi maka guru akan merasa gembira dalam bekerja.

7. Ikut ambil bagian dalam pembuatan kebijakan sekolah
Jika semua guru diikutsertakan dalam membuat policy sekolah mereka akan merasa dipentingkan dalam sekolah. Pengalaman membuktikan jika tujuan ditetapkan bersama oleh kelompok maka semua anggota kelompok ikut bertanggungjawab atas pelaksanaannya.

8. Kesempatan mengembangkan “self respect”
Rasa harga diri setiap guru perlu dikembangkan agar dapat melakukan apa yang harus dilakukan tanpa harus dididik pimpinan. Berilah kesempatan merencanakan bersama, jangan banyak diperintah, tetapi sebaliknya, memberikan rangsangan serta menunjukkan harapan yang positif.

F. Alternatif Pembinaan Moral Kerja Guru
Sebagian ahli seperti Jones, Salisbury, dan Spencer (1969) menegaskan bahwa ada beberapa alternatif dalam hal manajerial pembinaan moral kerja guru. Pertama, ciptakan lingkungan yang merangsang dan menyenangkan., lingkungan yang mampu merangsang guru-guru dalam merealisasikan kemampuannya. Lingkungan yang penuh keakraban satu sama lainnnya, penuh kehangatan dan kesetiakawanan sesama personalia sekolah, serta penuh rasa hormat. Kedua, deskripsi tugas dan tanggung jawab yang jelas. Perlu diusahakan agar guru-guru menyadari bahwa tugas-tugas mereka pantas dan adil antara satu guru dengan guru lainnya, guru-guru tidak merasa bahwa mereka dibatasi oleh policy sekolah. Ketiga, kebebasan akademik dan jiwa. Dalam hal ini kepala sekolah memberikan kebebasan yang sama kepada guru-guru untuk berbuat sesuatu demi kemajuan sekolah. Keempat, ciptakan hubungan yang harmonis di antara sesama personalia sekolah.

Untuk mengembangkan suatu usaha pembinaan moral kerja guru, seorang kepala sekolah terlenih dahulu harus menentukan sebertapa tinggi tingkat kepuasan kerja guru. Dengan kata lain ada dua langkah dalam mengidentifikasi alternatif manajerial pembinaan moral kerja guru, yaitu mengukur tingkat kepuasan kerja guru, dan menentukan alternatif apa yang dapat ditempuh untuk membina moral kerja guru.

1. Mengukur Tingkat Kepuasan Kerja Guru
Kepuasan kerja berhubungan dengan seberapa tinggi pemenuhan kebutuhan-kebutuhan guru. Penelitian menunjukkan bahwa ada korelasi positif antar kepuasan kerja dengan moral kerja. Dalam kerangka manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah, kepala sekolah bisa membuat sendiri format pengukuruan kepuasan kerja guru. Item-itemnya bisa dikembangkan dari analisis kita tentang kebutuhan-kebutuhan guru. Misalnya saja apabila kita kembali meninjau kebutuhan-kebutuhan guru sebagaimana diidentifikasi dalam delapan kebutuhan guru melalui kerjanya. Kedelapan kebutuhan itu dapat dikembangkan menjadi item-item pertanyaan untuk mengukur kepuasan kerja guru, seperti berikut.
a. Bagaimana kepuasan Saudara terhadapa gaji yang Saudara peroleh?
b. Apakah gaji yang saudara peroleh dapat memnuhi kebutuhan pokok Saudara?
c. Bagaimana kepuasan Saudara terhadap keadaan kondisi kerja di sekolah?
d. Bagaimana kepuasan Saudara terhadap pengikutsertaan Saudara dalam kegiatan sekolah?
e. Bagaimana kepuasan Saudara terhadap perlakuan kepala sekolah?

2. Menetapkan Alternatif Pembinaan Moral Kerja
Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah merupakan tanggung jawab kepala sekolah secara mandiri. Tidak dapat dibenarkan apabila kepala sekolah hanya membina kemampuan-kemampuan guru tanpa membina moral kerjanya, atau sebaliknya, karena kedua-duanya memberikan kontribusi yang sama menuju terciptanya guru yang profesional. Peningkatan pemberian gaji bukanlah satu-satunya alternatif dalam manajerial pembinaan moral kerja guru. Itulah sebabnya, setelah tingkat kepuasan guru dapat ditetapkan, selanjuytnya kepala sekolah menentukan alternatif pembinaannya. Sudah barang tentu alternatif pembinaan tersebut disesuaikan dengan tingkat kepuasan kerja yang dicapai oleh guru.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

 Moral Kerja dapat diartikan sebagai suatu sikap dan tingkah laku yang terwujud dalam bentuk semangat seseorang dalam kerjanya

 Seorang guru yang memiliki moral kerja yang tinggi akan bekerja dengan penuh antusias, penuh gairah, penuh inisiatif, penuh kegembiraan, tenang, teliti, suka bekerjasama dengan orang lai, ulet, tabah, dan tidak pernah datang terlambat

 Dalam menetapkan strategi pembinaan moral kerja guru harus didasarkan pada pemahaman tiga hal yaitu, memahami apa sebenarnya hakikat moral kerja secara konseptual, mampu menganalisis kebutuhan manusia, dan memahami langkah-langkah manajerial dalam upaya mengidentifiksai alternatif strategi pembinaan moral kerja guru

B. Saran

 Untuk menentukan seberapa tinggi moral kerja seorang guru, sebaiknya kepala sekolah selaku administrator sekolah dan pemimpin pendidikan mengadakan observasi terhadap bagaimana guru bertindak mengerjakan tugasnya sehari-hari

 Pembinaan moral kerja guru sebaiknya harus dilakukan secara manajerial yang dapat diterima apabila dikaji secara keilmuan, dan dapat menghasilkan guru-guru yang memiliki moral kerja yang tinggi.

3 thoughts on “Pembinaan Moral Guru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s