PENGARUH LINGKUNGAN TERHADAP MORAL MASYARAKAT


Interaksi sosial menurut Bonner (dalam Gerungan, 1991) yaitu suatu hubungan antara dua atau lebih individu manusia, di mana perilaku individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki perilaku individu yang lain, atau sebaliknya. Sherif (1956) membedakan situasi sosial ke dalam dua golongan yaitu, togetherness situation (situasi kebersamaan) dan group situation (situasi kelompok sosial). Situasi kebersamaan adalah situasi di mana berkumpul sejumlah orang yang sebelumnya tidak saling mengenal dan belum mempunyai saling hubungan yang teratur. Sedangkan situasi kelompok sosial adalah situasi yang terjadi dalam kelompok sosial tempat orang-orang berinteraksi yang merupakan satu kesatuan.

Cooley (dalam Soetarno, 1989) membedakan kelompok sosial menjadi primary group (kelompok primer) dan secondary group (kelompok sekunder). Ada juga penggolongan kelompok sosial ke dalam kelompok formal atau resmi (formal group) dan kelompok informal atau tidak resmi (informal group). Menurut Sherif (1956) ada empat ciri utama dalam interaksi kelompok sosial yang membedakannya dari bentuk interaksi sosial lainnya, yaitu adanya:
1. Motif yang sama antara anggota kelompok.
2. Reaksi-reaksi dan kecakapan yang berlainan antara anggota kelompok.
3. Penegasan struktur kelompok.
4. Penegasan norma-norma kelompok.

Menurut Linton (dalam Newcom, dkk., 1978) masyarakat yang paling sederhana sekalipun memiliki paling sedikit lima jenis posisi yang berbeda, yang didasarkan pada:
1. Umur dan kelamin.
2. Pekerjaan.
3. Prestise.
4. Famili.
5. Kelompok perserikatan, organisasi-organisasi, atau perkumpulan-perkumpulan.

Proses internalisasi norma kelompok dapat berjalan dengan dua cara, yaitu:
1.Mengambil ahli norma-norma yang sudah ada pada kelompok dengan cara mengidentifikasi diri dengan kelompok (pembentukan norma yang heteronom).
2.turut membentuk norma-norma baru dalam interaksi yang timbal balik dengan anggota kelompok lainnya (pemnentukan norma yang otonomi). Pembentukan norma yang otonomi merupakan tujuan dari pendidikan moral.

Teori etika lingkungan hidup sendiri secara singkat dapat diartikan sebagai sebuah usaha untuk membangun dasar-dasar rasional bagi sebuah sistem prinsip-prinsip moral yang dapat dipakai sebagai panduan bagi upaya manusia untuk memperlakukan ekosistem alam dan lingkungan sekitarnya.

Paling tidak pendekatan etika lingkungan hidup dapat dikategorikan dalam dua tipe yaitu pendekatan human-centered (berpusat pada manusia atau antroposentris) dan tipe pendekatan life-centered (berpusat pada kehidupan atau biosentris). Teori etika human-centered mendukung kewajiban moral manusia untuk menghargai alam karena didasarkan atas kewajiban untuk menghargai sesama sebagai manusia. Sedangkan teori etika life-centered adalah teori etika yang berpendapat bahwa kewajiban manusia terhadap alam tidak berasal dari kewajiban yang dimiliki terhadap manusia.

Yang disebut sebagai agen moral adalah sebenarnya apa saja yang hidup, yang memiliki kapasitas kebaikan atau kebajikan sehingga dapat bertindak secara moral, memiliki kewajiban dan tanggung jawab, dan dapat dituntut untuk mempertanggungjawabkan tindakannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s