Tari Kabasaran


Sejarah Tari Kabasaran

Kota Tomohon yang penduduknya sebagian besar adalah suku Minahasa, mempunyai tarian perang yang bernama Kabasaran. Kabasaran adalah sekelompok pria yang memakai baju adat perang Minahasa. Kabasaran juga sering disebut dengan Cakalele, tapi sebutan Cakalele adalah sama dengan tarian perang dari daerah Maluku (dalam.http://www.depdagri.go.id:13.00/)

Tari kabasaran sering juga disebut tari cakalele, adalah salah satu seni tari tradisional orang Minahasa yang banyak dimainkan oleh masyarakat Kota Manado, yang biasanya ditampilkan pada acara-acara tertentu seperti menyambut tamu dan pagelaran seni budaya. Tari ini menirukan perilaku dari para leluhur dan merupakan seni tari perang melawan musuh. (dalam.http://www.hariankomentar.com/:12.56).

Kabasaran adalah Tari Perang, yang menceritakan bagaimana suku Minahasa mempertahankan tanah Minahasa dari musuh yang hendak mendudukinya. Tari Perang ini memperagakan bagaimana menggunakan Pedang Perisai dan Tombak.(dalam.http://www.minsel.go.id/seni.html.13.11)

Konon, Tarian khas Minahasa, Kawasaran (kabasaran), hanya bisa disaksikan sebelum para leluhur Tanah Toar Lumimuut pergi berperang melawan musuh. Namun sekarang, Tarian Perang yang menjadi salah satu aset budaya Minahasa ini, telah menjadi sajian menarik bagi warga Minahasa bahkan turis domestik dan mancanegara, untuk dinikmati sebagai penganan ringan dalam suatu hajatan formal maupun nonformal.

Di Tomohon sendiri, ada satu kelompok Tari Kabasaran bentukan pemerhati budaya, Prof Dr JWP Mandagi, yang telah dikenal luas masyarakat Minahasa bahkan masyarakat Sulut pada umumnya, yakni Kelompok Tumou Tou Lestari. Resmi berdiri sejak 8 Februari 1985, kelompok Tarian Budaya Minahasa yang bermarkas di Kelurahan Paslaten I dan Paslatan II (Dulu Paslaten) ini, masih tetap eksis hingga sekarang, kendati banyak rintangan yang harus dilalui agar bisa bertahan.

KABASARAN, Tarian Budaya Idola Mancanegara. Salah satu personelnya, Lodewiyk Wuisan (59), mau membagi cerita singkat tentang kelompok Tari Kabasaran yang dipimpinnya. Namun kenangan yang mungkin tak akan dilupakan Lodewiyk adalah ketika mereka menyambut tamu negara, Presiden Soeharto dan Presiden Philipina, Ferdinand Marcos. Demikian juga saat keluarga Kerajaan Belanda, Ratu Beatrix dan Pangeran Williams, berkunjung di salah satu resort terkemuka di Kota Tomohon, Lokon Resting Resort beberapa waktu lalu. Apalagi usai pementasan, para tamu ini terlihat gembira dan langsung melayangkan pujian terhadap Tari Kabasaran kelompok Tumou Tou Lestari.

Kelompok Tari kabasaran ini mulai dikenal masyarakat luas, termasuk di negara luar, Lodewiyk kemudian diminta untuk melatih satu kelompok Tari Kabasaran dari Belanda, yang datang belajar di Sulut beberapa tahun silam. Tujuannya tidak lain, karena masyarakat Belanda ingin menyaksikan tarian ini dipentaskan di Tanah Belanda. “Yang datang belajar waktu itu memang orang Minahasa yang sudah lama tinggal di Belanda. Tapi mereka dilatih karena warga Belanda ingin menikmati Tarian Kabasaran ini,” kata suami tercinta Min Mantow yang pernah melatih kelompok serupa di Bekasi dan Jakarta.

Ketika tahun berganti, tak bisa dipungkiri usia para pemain kabasaran ini juga ikut bertambah tua. Kendati demikian, mereka masih tetap mendapat kepercayaan untuk menyambut tamu-tamu yang berkunjung ke daerah ini. Bayaran mereka juga ternyata terbilang murah, dengan harga standar sehari pentas yakni sekitar Rp 500 ribu hingga Rp 1,5 juta. Tapi harga ini juga bisa bertambah ketika order melebihi satu hari ataupun jumlah personel ditambah. “Rata-rata empat pasang penari sekali main dibayar 500 ribu. Tapi kalau diminta banyak pemain, tentu harganya kita naikkan juga. Tapi yang pasti, kami bangga mendapat tawaran dan bisa tampil meski dengan bayaran yang pas-pasan,” ujar Penatua Kolom II Jemaat Maranatha Paslaten ini, sembari mengaku dirinya bahkan sebagian besar anggota kelompok, hanya berprofesi sebagai tibo dan pedagang pasar serta petani.

Namun dibalik kebanggaan seorang Lodewiyk, tersembunyi kegusaran dan rasa kuatir akan keberadaan Tari kebanggaan Tou Minahasa ini di kemudian hari. Sebab ditakutkan, tarian ini akan punah suatu waktu, seiring perkembangan jaman di era globalisasi sekarang.Oleh karena itu setiap kali mendapat order, kelompok ini selalu berusaha agar mereka bisa tampil, meskipun bayarannya tergolong kurang mencukupi kebutuhan kelompok. Dengan harapan, tarian ini bisa terus dilihat dan dinikmati warga dan tidak akan punah.

Lodewiyk juga terus-menerus mengingatkan kepada anggota kelompoknya agar tetap melatih diri, bahkan melatih kelompok lain agar ada regenerasi terhadap Tari Kabasaran. Di samping itu, dia berharap agar pemerintah memberi perhatian terhadap Tarian Kabasaran dan aset budaya lainnya seperti Tarian Maengket, agar bisa dinikmati generasi yang akan datang. “Sebaiknya juga Tarian ini dilatih di sekolah-sekolah. Itu harapan kami,”
(dalam http://www.hariankomentar.com/:.12.51)

Maksud dan tujuan tari kabasaran telah termuat sejak jaman penjajahan Belanda tempo dulu, ada peraturan daerah mengenai Kabasaran yang termuat dalam Staatsblad Nomor 104 B, tahun 1859 yang menetapkan bahwa tari kabasaran.
1. Upacara kematian para pemimpin negeri (Hukum Basar, Hukum Kadua, Hukum Tua) dan tokoh masyarakat, mendapat pengawalan Kabasaran. Juga pada perkawinan keluarga pemimpin negeri.
2. Pesta adat, upacara adat penjemputan tamu agung pejabat tinggi Belanda Residen, kontrolir oleh Kabasaran.
3. Kabasaran bertugas sebagai “Opas” (Polisi desa).
4. Seorang Kabasaran berdinas menjaga pos jaga untuk keamanan wilayah setahun 24 hari.

Penari tari kabasaran dengan pakaian serba merah, mata melotot, wajah garang, diiringi tambur sambil membawa pedang dan tombak tajam, membuat tarian kabasaran amat berbeda dengan tarian lainnya di Indonesia yang umumnya mengumbar senyum dengan gerakan yang lemah gemulai. Tarian ini merupakan tarian keprajuritan tradisional Minahasa, yang diangkat dari kata Wasal, yang berarti ayam jantan yang dipotong jenggernya agar supaya sang ayam menjadi lebih garang dalam bertarung. Tarian ini diiringi oleh suara tambur dan gong kecil. Alat musik pukul seperti Gong, Tambur atau Kolintang disebut “Pa ‘ Wasalen” dan para penarinya disebut Kawasalan, yang berarti menari dengan meniru gerakan dua ayam jantan yang sedang bertarung.

Kata Kawasalan ini kemudian berkembang menjadi Kabasaran yang merupakan gabungan dua kata “Kawasal ni Sarian” “Kawasal” berarti menemani dan mengikuti gerak tari, sedangkan “Sarian” adalah pemimpin perang yang memimpin tari keprajuritan tradisional Minahasa. Perkembangan bahasa melayu Manado kemudian mengubah huruf “W” menjadi “B” sehingga kata itu berubah menjadi Kabasaran, yang sebenarnya tidak memiliki keterkaitan apa-apa dengan kata “besar” dalam bahasa Indonesia, namun akhirnya menjadi tarian penjemput bagi para pembesar. Pada jaman dahulu para penari Kabasaran, hanya menjadi penari pada upacara-upacara adat. Namun, dalam kehidupan sehari-harinya mereka adalah petani. Apabila Minahasa berada dalam keadaan perang, maka para penari kabasaran menjadi Waranei (prajurit perang).

Bentuk Dasar dan Babak Tari Kabasaran terdiri dari sembilan jurus pedang (santi) atau sembilan jurus tombak (wengkouw) dengan langkah kuda-kuda 4/4 yang terdiri dari dua langkah ke kiri, dan dua langkah ke kanan. Tiap penari kabasaran memiliki satu senjata tajam yang merupakan warisan dari leluhurnya yang terdahulu, karena penari kabasaran adalah penari yang turun temurun. Tarian ini umumnya terdiri dari tiga babak (sebenarnya ada lebih dari tiga, hanya saja, sekarang ini sudah sangat jarang dilakukan). Babak – babak tersebut terdiri dari :
1. Cakalele, yang berasal dari kata “saka” yang artinya berlaga, dan “lele” artinya berkejaran melompat – lompat. Babak ini dulunya ditarikan ketika para prajurit akan pergi berperang atau sekembalinya dari perang. Atau, babak ini menunjukkan keganasan berperang pada tamu agung, untuk memberikan rasa aman pada tamu agung yang datang berkunjung bahwa setan-pun takut mengganggu tamu agung dari pengawalan penari Kabasaran.
2. Babak kedua ini disebut Kumoyak, yang berasal dari kata “koyak” artinya, mengayunkan senjata tajam pedang atau tombak turun naik, maju mundur untuk menenteramkan diri dari rasa amarah ketika berperang. Kata “koyak” sendiri, bisa berarti membujuk roh dari pihak musuh atau lawan yang telah dibunuh dalam peperangan.
3. Lalaya’an. Pada bagian ini para penari menari bebas riang gembira melepaskan diri dari rasa berang seperti menari “Lionda” dengan tangan dipinggang dan tarian riang gembira lainnya. Keseluruhan tarian ini berdasarkan aba-aba atau komando pemimpin tari yang disebut “Tumu-tuzuk” (Tombulu) atau “Sarian” (Tonsea). Aba-aba diberikan dalam bahasa sub–etnik tombulu, Tonsea, Tondano, Totemboan, Ratahan, Tombatu dan Bantik. Pada tarian ini, seluruh penari harus berekspresi Garang tanpa boleh tersenyum, kecuali pada babak lalayaan, dimana para penari diperbolehkan mengumbar senyum riang.

Busana Tari Kabasaran yang digunakan dalam tarian ini terbuat dari kain tenun Minahasa asli dan kain “Patola”, yaitu kain tenun merah dari Tombulu dan tidak terdapat di wilayah lainnya di Minahasa, seperti tertulis dalam buku Alfoersche Legenden yang di tulis oleh PN. Wilken tahun 1830, dimana kabasaran Minahasa telah memakai pakaian dasar celana dan kemeja merah, kemudian dililit ikatan kain tenun. Dalam hal ini tiap sub-etnis Minahasa punya cara khusus untuk mengikatkan kain tenun. Khusus Kabasaran dari Remboken dan Pareipei, mereka lebih menyukai busana perang dan bukannya busana upacara adat, yakni dengan memakai lumut-lumut pohon sebagai penyamaran berperang.

Sejak tahun 1950-an, kain tenun asli mulai menghilang sehingga kabasaran Minahasa akhirnya memakai kain tenun Kalimantan dan kain Timor karena bentuk, warna dan motifnya mirip kain tenun Minahasa seperti Kokerah, Tinonton, Pasolongan, Bentenen. Topi Kabasaran asli terbuat dari kain ikat kepala yang diberi hiasan bulu ayam jantan, bulu burung Taong dan burung Cendrawasih. Ada juga hiasan tangkai bunga kano-kano atau tiwoho. Hiasan ornamen lainnya yang digunakan adalah “lei-lei” atau kalung-kalung leher, “wongkur” penutup betis kaki, “rerenge’en” atau giring-giring lonceng (bel yang terbuat dari kuningan). (Tari Kabasaran Oleh : JessyWenas.dalam. http://www.kkk.or.id/images/Tari%20Kabasaran.htm.12.44)
Kesimpulan Kota Tomohon yang penduduknya sebagian besar adalah suku Minahasa, mempunyai tarian perang yang bernama Kabasaran. Kabasaran adalah sekelompok pria yang memakai baju adat perang Minahasa. Kabasaran juga sering disebut dengan Cakalele, tapi sebutan Cakalele adalah sama dengan tarian perang dari daerah Maluku. Tari kabasaran, salah satu seni tari tradisional orang Minahasa yang banyak dimainkan oleh masyarakat Kota Manado, yang biasanya ditampilkan pada acara-acara tertentu seperti menyambut tamu, pembesar dan pagelaran seni budaya.
Penari kabasaran dengan pakaian serba merah, mata melotot, wajah garang, diiringi tambur sambil membawa pedang dan tombak tajam, membuat tarian kabasaran amat berbeda dengan tarian lainnya di Indonesia yang umumnya mengumbar senyum dengan gerakan yang lemah gemulai. Tarian ini diiringi oleh suara tambur dan gong kecil. Alat musik pukul seperti Gong, Tambur atau Kolintang. Bentuk dasar dari tarian ini adalah sembilan jurus pedang (santi) atau sembilan jurus tombak (wengkouw) dengan langkah kuda-kuda 4/4 yang terdiri dari dua langkah ke kiri, dan dua langkah ke kanan.
Busana yang digunakan dalam tarian ini terbuat dari kain tenun Minahasa asli dan kain “Patola”, yaitu kain tenun merah. Topi Kabasaran asli terbuat dari kain ikat kepala yang diberi hiasan bulu ayam jantan, bulu burung Taong dan burung Cendrawasih. Ada juga hiasan tangkai bunga kano-kano atau tiwoho. Hiasan ornamen lainnya yang digunakan adalah “lei-lei” atau kalung-kalung leher, “wongkur” penutup betis kaki, “rerenge’en” atau giring-giring lonceng (bel yang terbuat dari kuningan)

DAFTAR PUSTAKA

http://www.hariankomentar.com/:.12.51
http://www.hariankomentar.com/:12.56).
http://www.minsel.go.id/seni.html.13.11
JessyWenas. dalam Tari Kabasaran . http://www.kkk.or.id/images/Tari%20Kabasaran.htm.12.44

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s