Pembelajaran Membaca dan Membaca Permulaan


Pembelajaran Membaca dan Membaca Permulaan

Dalam teori pendidikan klasik, mendidik anak-anak pra-sekolah dan kelas-kelas rendah belum memberi pengetahuan intelektual. Pendidikan lebih ditekankan pada usaha menyempurnakan rasa. Yang harus dikembangkan adalah kecerdasan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar dan pengendalian emosinya.. Pendidikan pra-sekolah sesungguhnya ditekankan pada bagaimana menumbuhkan perasaan senang berimajinasi, menggunggah dan menggali hal-hal kecil di sekitarnya. Jika anak sudah senang terhadap hal-hal tersebut, dengan sendirinya minat dan potensi akademiknya akan tumbuh tepat pada waktunya, yaitu ketika tantangan dan tuntutan hidupnya semakin besar. Pembelajaran bahasa yang utama ialah sebagai alat komunikasi. Seorang anak belajar bahasa karena di desak oleh kebutuhan untuk berkomunikasi dengan orang-orang di lingkungan sekitar. Oleh karena itu sejak dini anak-anak diarahkan agar mampu menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar untuk berkomunikasi dalam berbagai situasi yaitu, mampu menyapa, mengajukan pertanyaan, menjawab, menyebutkan pendapat dan perasaan melalui bahasa (Thahir, 1993:2 dalam http://digilib.unnes.ac.id)

Tujuan pengajaran bahasa Indonesia yang utama adalah agar siswa terampil berbahasa. Kegiatan berbahasa tercermin dalam berbicara, membaca, menulis, dan menyimak dalam kehidupan sehari-hari. Keempat keterampilan berbahasa tersebut diperoleh secara hierarkis. Maksudnya, pemerolehan keterampilan keterampilan berbahasa yang satu akan mendasari keterampilan lainnya. Keterampilan menyimak dan berbicara , yang merupakan keterampilan berbahasa reseptif, diperoleh seseorang untuk pertama kalinya di lingkungan rumah. Keterampilan membaca dan menulis, yakni keterampilan berbahasa produktif, diperoleh seseorang ketika mereka memasuki pendidikan formal. Oleh karena itu, kedua jenis keterampilan berbahasa ini merupakan sajian pembelajaran yang utama dan pertama bagi siswa sekolah dasar di kelas awal. Kedua materi keterampilan berbahasa ini dikemas dalam satu kemasan pembelajaran yang dikenal dengan MMP (Membaca dan Menulis Permulaan). Dalam hal ini sekolah memiliki peranan yang strategis dalam meletakkan kemampuan, minat dan kegemaran membaca dan menulis. Namun berdasarkan hasil survey diketahui bahwa kemampuan membaca dan menulis anak-anak Indonesia masih tergolong rendah dan masih banyak terdapat kesalahan dari segi teknik membaca dan menulis itu sendiri.

Tujuan

Setelah mempelajari bahan belajar ini, diharapkan dapat :
1. Memahami hakikat membaca dan menulis permulaan
2. Mengetahui kendala yang dialami anak dalam membaca dan menulis
permulaaan serta cara menanggulanginya
3. Metode yang digunakan dalam pembelajaran membaca dan menulis permulaan,
dll.

1. Hakikat Membaca
Membaca adalah kegiatan berbahasa berupa proses melisankan dan mengolah bahan bacaan secara aktif, membaca juga merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang diajarkan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah. Membaca bukan hanya megucapkan bahasa tulisan atau lambang bunyi bahasa, melainkan juga menanggapi dan memahami isi bahasa tulisan. Dengan demikian membaca pada hakikatnya merupakan suatu bentuk komunikasi tulis (A.s. Broto, 1975 dalam Mulyono, 2003:200).
Membaca merupakan salah satu jenis kemampuan berbahasa tulis yang bersifat reseptif. Disebut reseptif karena dengan membaca seseorang akan memperoleh informasi, memperoleh ilmu dan pengetahuan serta pengalaman-pengalaman baru. Semua yang diperoleh melalui bacaan akan memungkinkan seseorang mampu mempertinggi daya pikirnya, mempertajam pandangannya, dan memperluas wawasannya (Zuchdi dan Budiasih, 1996/1997:49 dalam http://hudaita.blogspot.com).
Pendapat tersebut menekankan tentang pentingnya membaca bagi peningkatan kualitas diri seseorang. Seseorang akan “gagap teknologi” dan “gagap informasi” apabila jarang atau tidak pernah melakukan kegiatan membaca. Informasi tentang ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, politik, sosial kemasyarakatan dan berbagai informasi aktual lainnya senantiasa berkembang pesat dari hari ke hari. Meskipun media non cetak (televisi, radio, dll) telah banyak menggantikan media cetak, namun kemampuan membaca masih memegang peran penting dalam kehidupan manusia modern.

2. Tujuan dan Manfaat Membaca
Dari hakikat membaca yang telah diuraikan tersebut dapat dikemukakan bahwa kegiatan membaca mempunyai berbagai macam tujuan dan manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang yang akan melakukan kegiatan membaca tentu mempunyai maksud mengapa dia perlu membaca teks tersebut dan selanjutnya dapat mengambil manfaat setelah kegiatan membaca berlangsung. Membaca hendaknya mempunyai tujuan, karena seseorang yang membaca dengan suatu tujuan, cenderung lebih memahami dibandingkan dengan orang yang tidak mempunyai tujuan. Tujuan kegiatan membaca antara lain : (1) memperoleh kesenangan; (2) menyempurnakan membaca nyaring; (3) memperbaharui pengetahuannya tentang suatu topik; (4) mengaitkan informasi baru dengan informasi yang telah diketahuinya; (5) menjawab pertanyaan-pertanyaan yang spesifik ( Blanton dkk, 1996 dalam Farida, 2005:11-12).
Sedangkan manfaat kegiatan membaca antara lain (1) sebagai media rekreatif; (2) media aktualisasi diri; (3) media informatif; (4) media penambah wawasan; (5) media untuk mempertajam penalaran; (6) media belajar suatu keterampilan; (7) media pembentuk kecerdasan emosi dan spiritual; dsb. Membaca adalah proses aktif dari pikiran yang dilakukan melalui mata terhadap bacaan. Dalam kegiatan membaca, pembaca memproses informasi dari teks yang dibaca untuk memperoleh makna (Vacca, 1991: 172 dalam http://hudaita.blogspot.com).
Membaca juga merupakan kegiatan yang penting dalam kehidupan sehari-hari, karena membaca tidak hanya untuk memperoleh informasi, tetapi berfungsi sebagai alat untuk memperluas pengetahuan bahasa seseorang. Dengan demikian, anak sejak kelas awal SD perlu memperoleh latihan membaca dengan baik khususnya membaca permulaan. Selain itu, membaca juga merupakan suatu proses memperoleh makna dari cetakan. Kegiatan membaca bukan sekedar aktifitas yang bersifat pasif dan reseptif saja, melainkan menghendaki pembaca untuk aktif berpikir. Untuk memperoleh makna dari teks, pembaca harus menyertakan latar belakang “bidang” pengetahuannya, topik, dan pemahaman terhadap sistem bahasa itu sendiri. Tanpa hal-hal tersebut selembar teks tidak berarti apa-apa bagi pembaca. (Gibbon, 1993: 70-71 http://hudaita.blogspot.com)
3. Membaca Permulaan
Pembelajaran membaca di SD dilaksanakan sesuai dengan pembedaan atas kelas-kelas awal dan kelas-kelas tinggi. Pelajaran membaca di kelas-kelas awal disebut pelajaran membaca permulaan, sedangkan di kelas-kelas tinggi disebut pelajaran membaca lanjut. Pelaksanaan membaca permulaan di kelas I sekolah dasar dilakukan dalam dua tahap, yaitu membaca periode tanpa buku dan membaca dengan menggunakan buku. Pembelajaran membaca tanpa buku dilakukan dengan cara mengajar dengan menggunakan media atau alat peraga selain buku misalnya kartu gambar, kartu huruf, kartu kata dan kartu kalimat, sedangkan membaca dengan buku merupakan kegiatan membaca dengan menggunakan buku sebagai bahan pelajaran. (Sri Nuryati, 2007:1-2 dalam http://hudaita.blogspot.com)
Membaca permulaan merupakan tahapan proses belajar membaca bagi siswa sekolah dasar kelas awal. Siswa belajar untuk memperoleh kemampuan dan menguasai teknik-teknik membaca serta menangkap isi bacaan dengan baik. Oleh karena itu guru perlu merancang pembelajaran membaca dengan baik sehingga mampu menumbuhkan kebisaan membaca sebagai suatu yang menyenangkan. Pada tingkatan membaca permulaan, pembaca belum memiliki keterampilan kemampuan membaca yang sesungguhnya, tetapi masih dalam tahap belajar untuk memperoleh keterampilan / kemampuan membaca. Membaca pada tingkatan ini merupakan kegiatan belajar mengenal bahasa tulis. Melalui tulisan itulah siswa dituntut dapat menyuarakan lambang-lambang bunyi bahasa tersebut, untuk memperoleh kemampuan membaca diperlukan tiga syarat, yaitu kemampuan membunyikan lambang-lambang tulis, penguasaan kosakata untuk memberi arti, dan memasukkan makna dalam kemahiran bahasa. Membaca permulaan merupakan suatu proses keterampilan dan kognitif. Proses keterampilan menunjuk pada pengenalan dan penguasaan lambang-lambang fonem, sedangkan proses kognitif menunjuk pada penggunaan lambang-lambang fonem yang sudah dikenal untuk memahami makna suatu kata atau kalimat (Sri Nuryati, 1997: 5 dalam http://hudaita.blogspot.com).
Pembelajaran membaca permulaan diberikan di kelas I dan II. Tujuannya adalah agar siswa memiliki kemampuan memahami dan menyuarakan tulisan dengan intonasi yang wajar, sebagai dasar untuk dapat membaca lanjut (Akhadiah, 1991/1992: 31 dalam http://hudaita.blogspot.com). Pembelajaran membaca permulaan di SD mempunyai nilai yang strategis bagi pengembangan kepribadian dan kemampuan siswa. Pengembangan kepribadian dapat ditanamkan melalui materi teks bacaan (wacana, kalimat, kata, suku kata, huruf/bunyi bahasa) yang berisi pesan moral, nilai pendidikan, nilai sosial, nilai emosional-spiritual, dan berbagai pesan lainnya sebagai dasar pembentuk kepribadian yang baik pada siswa. Demikian pula dengan pengembangan kemampuan juga dapat diajarkan secara terpadu melalui materi teks bacaan yang berisi berbagai pengetahuan dan pengalaman baru yang pada akhirnya dapat berimplikasi pada pengembangan kemampuan siswa. Melalui pembelajaran membaca, guru dapat mengembangkan nilai-nilai moral, kemampuan bernalar dan kreativitas anak didik. (Akhadiah,1992 dalam http://hudaita.blogspot.com).
4. Pembelajaran Membaca Permulaan Melalui Permainan Bahasa
Belajar konstrultivisme mengisyaratkan bahwa guru tidak memompakan pengetahuan ke dalam kepala pebelajar, melainkan pengetahuan diperoleh melalui suatu dialog yang ditandai oleh suasana belajar yang bercirikan pengalaman dua sisi. Ini berarti bahwa penekanan bukan pada kuantitas materi, melainkan pada upaya agar siswa mampu menggunakan otaknya secara efektif dan efisien sehingga tidak ditandai oleh segi kognitif belaka, melainkan oleh keterlibatan emosi dan kemampuan kreatif. Dengan demikian proses belajar membaca perlu disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan siswa (Semiawan, 2002:5 dalam http://mbahbrata-edu.blogspot.com).
Dalam hal ini guru tidak hanya sekedar melaksanakan apa yang ada dalam kurikulum, melainkan harus dapat menginterpretasi dan mengembangakan kurikulum menjadi bentuk pembelajaran yang menarik. Pembelajaran dapat menarik apabila guru memiliki kreativitas dengan memasukkan aktivitas permainan ke dalam aktivitas belajar siswa. Penggunaan bentuk-bentuk permainan dalam pembelajaran akan memberi iklim yang menyenangkan dalam proses belajar, sehingga siswa akan belajar seolah-olah proses belajar siswa dilakukan tanpa adanya keterpaksaan, tetapi justru belajar dengan rasa keharmonisan. Selain itu, dengan bermain siswa dapat berbuat agak santai. Dengan cara santai tersebut sel-sel otak siswa dapat berkembang dan akhirnya siswa dapat menyerap informasi serta memperoleh kesan yang mendalam terhadap materi pelajaran. Materi pelajaran dapat disimpan terus dalam ingatan jangka panjang (Rubin, 1993 dalam http://mbahbrata-edu.blogspot.com).
Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, guru dapat melakukan simulasi pembelajaran dengan menggunakan kartu berseri (flash card). Kartu-kartu berseri tersebut dapat berupa kartu bergambar, kartu huruf, kartu kata, maupun kartu kalimat. Dalam pembelajaran membaca permulaan guru dapat menggunakan strategi bermain dengan memanfaatkan kartu-kartu huruf. Kartu-kartu huruf tersebut digunakan sebagai media dalam permainan menemukan kata. Siswa diajak bermain dengan menyusun huruf-huruf menjadi sebuah kata yang berdasarkan teka-teki atau soal-soal yang dibuat oleh guru. Titik berat latihan menyusun huruf ini adalah ketrampilan mengeja suatu kata (Rose and Roe, 1990 dalam http://mbahbrata-edu.blogspot.com).
Untuk memilih dan menentukan jenis permainan dalam pembelajaran membaca permulaan di kelas, guru perlu mempertimbangkan tujuan pembelajaran, materi pembelajaran dan kondisi siswa maupun sekolah. Dalam tujuan pembelajaran, guru dapat mengembangkan salah satu aspek kognitif, psikomotor, sosial atau memadukan berbagai aspek tersebut. Guru juga perlu mempertimbangkan materi pembelajaran, karena bentuk permainan tertentu cocok untuk materi tertentu. Misalnya, untuk ketrampilan berbicara guru dapat menyediakan jenis permainan dua boneka, karena dengan permainan ini dapat mendorong siswa berani tampil secara ekspresif.

5. Faktor-faktor Yang Menyebabkan Anak Mengalami Kesulitan Membaca Permulaan
Membaca merupakan proses memperoleh makna dari barang cetak (Spodek dan Sacacho, 1994 dalam http://digilib.unnes.ac.id). Dalam praktek lapangan, banyak kita jumpai pada anak usia SD, terutama di kelas rendah masih terhitung banyak siswa yang mengalami kesulitan belajar dalam hal membaca bacaan. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik faktor internal (yang berasal dari diri pembaca) maupun faktor eksternal (yang berasal dari luar diri pembaca). Faktor internal antara lain meliputi : minat baca, kepemilikan kompetensi pembaca, motivasi dan kemampuan pembacanya. Sedangkan faktor eksternal antara lain meliputi unsur-unsur yang berasal dari lingkungan baca
♦ Faktor Internal
1. Minat baca
Minat merupakan kegiatan siswa dengan penuh kesadaran terhadap suatu objek,
oleh karena itu minat perlu dikembangkan dan dilatih dengan pembiasaan-
pembiasaan terus menerus. Jika minat baca anak rendah maka tingkat
keberhasilan anak dalam membaca akan sulit tercapai. Minat baca anak harus
ditumbuhkembangkan sejak dini. Dan untuk membangkitkan minat baca siswa,
guru harus memberikan motivasi dan bimbingan pada diri siswa.

2. Motivasi
Kegiatan pembelajaran akan berhasil dan tercapai tujuannya jika dalam diri
siswa tertanam motivasi. Motivasi dalam proses pembelajaran berfungsi
untuk: (1) fungsi membangkitkan (arousal function) yaitu mengajak siswa
belajar, (2) fungsi harapan (expectasi function) yaitu apa yang harus bisa
dilakukan setelah berakhirnya pengajaran, (3) fungsi intensif (incentive
function) yaitu memberikan hadiah pada prestasi yang akan datang, (4) fungsi
disiplin (disciplinary function) yaitu menggunakan hadiah dan hukuman untuk
mengontrol tingkah laku yang menyimpang (Abd. Rachman, 1993 : 115 dalam
http://digilib.unnes.ac.id)

3. Kepemilikan Kompetensi Membaca
Keterampilan berbahasa ada empat, yaitu : keterampilan membaca, berbicara,
menyimak dan menulis. Keterampilan dalam membaca diperlukan latihan-
latihan tahap demi tahap. Kegiatan membaca terkait dengan (a) pengenalan
huruf (b) bunyi dan huruf atau rangkaian kata, (c) makna atau maksud dan (d)
pemahaman terhadap makna atau maksud. Jika kegiatan membaca tidak
dilakukan secara teratur maka keterampilan membaca yang dimiliki anak akan
berkurang dengan sendirinya.

♦ Faktor Eksternal
Faktor eksternal ini meliputi unsur-unsur yang berasal dari lingkungan baca.
Dalam hal ini sekolah sebagai pusat kebudayaan harus menciptakan siswa
yang gemar membaca melalui perpustakaan sekolah. Sekolah harus dapat
menciptakan suasana perpustakaan yang menyenangkan dan memberi
kenyamanan siswa dalam belajar. Lingkungan baca sangat mempengaruhi
tingkat keberhasilan membaca anak. Lingkungan baca anak yang
menyenangkan akan memberi kenyamanan bagi si pembaca dan mempermudah
anak dalam membaca.

6. Kesulitan Yang dihadapi Anak Dalam Membaca Permulaan

Dalam pelaksanaan pengajaran membaca, guru seringkali dihadapi pada anak yang mengalami kesulitan belajar membaca khususnya di kelas rendah. Kesulitan-kesulitan tersebut antara lain :

1. Kurang mengenali huruf
Ketidakmampuan anak dalam mengenal huruf-huruf alfabetis seringkali
dijumpai oleh guru yang sulit membedakan huruf besar / kapital dan huruf
kecil.

2. Membaca kata demi kata
Jenis kesulitan ini biasanya berhenti membaca setelah membaca sebuah kata,
tidak segera diikuti dengan kata berikutnya. Hal ini disebabkan oleh :
(a) gagal menguasai keterampilan pemecahan kode (decoding)
(b) gagal memahami makna kata
(c) kurang lancar membaca.

3. Pemparafase yang salah
Dalam membaca anak seringkali melakukan pemenggalan (berhenti membaca)
pada tempat yang tidak tepat atau tidak memperhatikan tanda baca, khususnya
tanda koma.

4. Miskin pelafalan
Ketidak tepatan pelafalan kata disebabkan anak tidak menguasai bunyi-bunyi
bahasa (fonem).

5. Penghilangan
Penghilangan yang dimaksud adalah menghilangkan (tidak dibaca) kata atau
frasa dari teks yang dibacanya. Biasanya disebabkan ketidakmampuan anak
mengucapkan huruf-huruf yang membentuk kata.

6. Pengulangan
Kebiasaan anak mengulangi kata atau frasa dalam membaca disebabakan oleh
faktor tidak mengenali kata, kurang menguasai huruf, bunyi, atau rendah
keterampilannya.

7. Pembalikan
Beberapa anak melakukan kegiatan membaca dengan menggunakan orientasi dari kanan ke kiri. Kata nasi dibaca isan. Selain itu, pembalikan juga dapat terjadi dalam membunyikan huruf-huruf, misal huruf b dibaca d, huruf p dibaca g. Kesulitan ini biasanya dialami oleh anak-anak kidal yang memiliki kecenderungan menggunakan orientasi dari kanan ke kiri dalam membaca dan menulis.
8. Penyisipan
Kebiasaan anak untuk menambahkan kata atau frase dalam kalimat yang dibaca juga dipandang sebagai hambatan dalam membaca, misalnya, anak menambah kata seorang dalam kalimat “anak sedang bermain”.
9. Penggantian
Kebiasaan mengganti suatu kata dengan kata lain disebabkan ketidakmampuan anak membaca suatu kata, tetapi dia tahu dari makna kata tersebut. Misalnya, karena anak tidak bisa membaca kata mengunyah maka dia menggantinya dengan kata makan.
10. Menggunakan gerak bibir, jari telunjuk dan menggerakkan kepala
Kebiasaan anak menggerakkan bibir, menggunakan telunjuk dan menggerakan kepala sewaktu membaca dapat menghambat perkembangan anak dalam membaca.
11. Kesulitan konsonan
Kesulitan dalam mengucapkan bunyi konsonan tertentu dan huruf yang melambangkan konsonan tersebut.
12. Kesulitan vokal
Dalam bahasa Indonesia, beberapa vokal dilambangkan dalam satu huruf, misalnya e selain melambangkan bunyi e juga melambangkan bunyi é (dalam kata keras, kepala, kerang, telah dan sebagainya) huruf-huruf yang melambangkan beberapa bunyi seringkali menjadi sumber kesulitan anak dalam membaca.
13. Kesulitan kluster, diftong dan digraf
Dalam bahasa Indonesia dapat dijumpai adanya kluster (gabungan dua konsonan atau lebih), diftong (gabungan dua vokal), dan digraf (dua huruf yang melambangkan satu bunyi). Ketiga hal tersebut merupakan sumber kesulitan anak yang sedang belajar membaca.
14. Kesulitan menganalisis struktur kata
Anak seringkali mengalami kesulitan dalam mengenali suku kata yang membangun suatu kata. Akibatnya anak tidak dapat mengucapkan kata yang dibacanya.
15. Tidak mengenali makna kata dalam kalimat dan cara mengucapkannya
Hal ini disebabkan kurangnya penguasaan kosakata, kurangnya penguasaan struktur kata dan penguasaan unsur konteks (kalimat dan hubungan antar kalimat) (http://digilib.unnes.ac.id).
7. Bimbingan yang Dilakukan Guru Dalam Mengatasi Anak yang
Mengalami Kesulitan Membaca Permulaan

Peran guru sebagai fasilitator sangat berpengaruh besar terhadap perkembangan peningkatan belajar anak. Keberhasilan belajar anak tidak lepas dari cara guru membimbing dan mendidik siswanya. Bimbingan yang harus dilakukan guru dalam menghadapi anak yang mengalami kesulitan membaca antara lain :

1. Bimbingan terhadap anak yang kurang mengenali huruf
Langkah yang harus ditempuh guru dalam membantu anak yang mengalami
kesulitan kurang mengenali huruf ini dapat berupa :
– Huruf dijadikan bahan nyanyian.
– Menampilkan huruf dan mendiskusikan bentuk (karakteristiknya) khususnya
huruf-huruf yang memiliki kemiripan bentuk (misalnya p, b, dan d).

2. Bimbingan terhadap anak yang membaca kata demi kata
Langkah yang dilakuan guru untuk mengatsi anak yang mengalami kesulitan
jenis ini adalah :
– Gunakanlah bacaan yang tingkat kesulitannya rendah.
– Anak disuruh menulis kalimat dan membacanya dengan keras.
– Jika kesulitan ini disebabkan oleh kurangnya penguasaan kosakata, maka
perlu pengayaan kosakata.
– Jika anak tidak menyadari bahwa dia membaca kata demi kata, rekamlah
kegiatan anak membaca dan putarlah hasil rekaman tersebut.

3. Bimbingan terhadap anak yang salah memparafrase.
Langkah yang dilakukan untuk mengatasi kesulitan ini yaitu dengan cara :
– Jika kesalahan disebabkan ketidaktahuan anak terhadap makna kelompok kata
(frasa), sajikan sejumlah kelompok kata dan latihkan cara membacanya.
– Jika kesalahan disebabkan oleh ketidaktahuan anak tentang tanda baca,
perkenalkan fungsi tanda baca dan cara membacanya.
– Berikan paragraf tanpa tanda baca, suruhlah anak untuk membacanya.
Selanjutnya ajaklah anak untuk menuliskan tanda baca pada paragraf tersebut.

4. Bimbingan terhadap anak yang miskin pelafalan
Untuk mengatasi kesulitan pelafalan, guru dapat menggunakan cara berikut :
– Bunyi-bunyi yang sulit diucapkan perlu diajarkan secara tersendiri.
– Bagi anak yang tidak dapat mengucapkan kata secara tepat berikan latihan
khusus pengucapan kata-kata tertentu yang dipandang sulit.

5. Bimbingan terhadap anak yang mengalami penghilangan kata
Untuk mengatasi hal ini ditempuh cara :
– Anak disuruh membaca ulang.
– Kenali jenis kata atau frasa yang dihilangkan.
– Berikan latihan membaca kata atau frasa.

6. Bimbingan terhadap anak yang sering mengulangi kata
Upaya yang dilakukan guru dalam hal ini antara lain :
– Anak perlu disadarkan bahwa mengulang kata dalam membaca merupakan
kebiasaan buruk.
– Kenali jenis kata yang sering diulang.
– Siapkan kata atau frasa jenis untuk dialatihkan.

7. Bimbingan terhadap anak yang sering melakukan pembalikan kata
Upaya mengatasi kesulitan ini dapat dikukuhkan dengan cara sebagai berikut :
– Anak perlu disadarkan bahwa membaca (dalam bahan yang menggunakan
sistem alfabetis) menggunakan orientasi dari kiri ke kanan.
– Bagi anak yang kurang menguasai hubungan huruf-bunyi, siapkan kata-kata
yang memiliki bentuk serupa untuk dilatihkan.
– Latihan hendaknya dilakukan dalam bentuk kata yang bermakna, misalnya :
huruf p dan b dilatihkan dengan menggunakan kata pagi dan bagi.

8. Bimbingan terhadap anak yang memiliki kebiasaan menyisipkan kata
Untuk mengatasi hal ini, bimbinglah anak dengan menyuruh anak membaca
dengan pelan-pelan dan mengingatkan bahwa dia telah menambahkan kata
dalam membaca.

9. Bimbingan terhadap anak yang memiliki kebiasaan mengganti suku kata
Untuk mengatasi hal ini dapat dilakukan dengan cara :
– Gunakan bahan bacaan yang teramsuk kategori mudah.
– Identifikasi kata-kata yang sulit diucapkan oleh anak.
– Latihkan cara mengucapkan kata-kata tersebut.
10. Bimbingan terhadap anak yang memiliki kebiasaan menggunakan gerak bibir, jari telunjuk dan menggerakan kepala.
Untuk mengubah kebiasaan anak yang selalu menggerakkan bibir sewaktu membaca dalam hati, dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut
– Anak disuruh mengumumkan suatu kalimat, selanjutnya suruh anak untuk mengulangi membaca kalimat tersebut tanpa mengunyam.
– Jelaskan pada anak bahwa membaca mengunyam dapat menghambat keefektifan membaca.

Sedangkan untuk menghadapi anak yang menggunakan jari
telunjuk dalam membaca, dapat dilakukan kegiatan berikut.
– Perhatikan apakah anak mengalami gangguan mata.
– Gunakan bacaan yang cetakannya besar dan jelas.
– Latihkan teknik membaca prosa.
– Peringkatkan anak untuk tidak menggunakan jari telunjuk dalam
membaca.
11. Bimbingan terhadap anak yang kesulitan mengucapkan bunyi konsonan
dapat dilakukan bimbingan antara lain :
– Kembangkan anak dalam mendengarkan konsonan yang sulit misalnya tuliskan kata-kata yang dimulai dengan konsonan (depan, adat, dapat, diri dan sebagainya).
– Suruh anak mencari dan mengumpulkan kata yang didalamnya terkandung konsonan tersebut.
– Latihkan anak mengucapkan kata-kata yang didalamnya terkandung
konsonan.
12. Bimbingan terhadap anak yang mengalami kesulitan vokal
Untuk mengatasi anak yang mengalami kesulitan ini dapat dilakukan :
– Tanamkan pengertian pada diri anak bahwa huruf-huruf tertentu dalam
melambangkan lebih dari satu bunyi misalnya : huruf e dapat melambangkan bunyi e dan é.
– Berikan contoh huruf e yang melambangkan bunyi e dan é dalam kata-kata
– Ajaklah anak mengumpulkan kata yang didalamnya terkandung huruf tersebut.
13. Bimbingan terhadap anak yang mengalami kesulitan kluster, diftong dan
digraf
Untuk mengatasi kesulitan ini lakukan :
– Kenalkan kluster (misalnya st, kl, gr, pr, sw), diftong (misalnya ai, oi,
ui) dan digraf (misalnya sy, ng, kh, dan ny) dalam kata atau kalimat.
– Tuliskan kata atau kalimat yang mengandung kluster, diftong, dan digraf.
– Mintalah anak untuk mengumpulkan kata-kata yang di dalamnya
terkandung kluster, diftong, dan digraf.
– Perintahkan anak membacakan kata-kata yang telah dikumpulkan.

14. Bimbingan terhadap anak yang kesulitan menganalisis struktur kata
Untuk mengatasi kesulitan ini lakukanlah :
– Catatlah kata-kata yang seringkali dipandang sulit untuk diucapkan
oleh anak.
– Perkenalkan kata-kata yang seringkali dipandang sulit untuk diucapkan oleh
Anak.
– Perkenalkan kata-kata tersebut kepada anak dengan memanfaatkan metode
yang ada.
– Suruhlah anak mencari kata-kata lain yang sejenis dan membacanya.

15. Bimbingan terhadap anak yang sulit mengenali makna kata dalam kalimat
dan cara mengucapkannya.
Untuk mengatasi anak yang mengalami kesulitan ini lakukan :
– Ambil satu kata dan daftarkan kata turunannya (misalnya kata : membaca, membacakan, dibaca, dibacakan, bacaan, dan terbaca).
– Bimbinglah anak untuk mengenali kata baca dan turunannya yang terdapat dalam bacaan tersebut.
– Alihkan pada kata lain (misalnya kata tulis, gambar, makan, lari dan
sebagainya) (http://digilib.unnes.ac.id).
B. Pembelajaran Menulis dan Menulis Permulaan
1. Hakikat Menulis
Menulis adalah melahirkan pikiran atau gagasan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan. (Kamus Besar Bahasa Indonesia,1993 dalam http://digilib.unnes.ac.id). Menurut pengertian ini menulis merupakan hasil, yaitu
melahirkan pikiran dalam perasaan kedalam tulisan. Menulis merupakan penggambaran visual tentang pikiran, perasaan atau ide, dengan menggunakan symbol-simbol sistem bahasa penulis untuk keperluan komunikasi atau mencatat. (Poteet, 1984 dalam Mulyono, 2003:224). Selain itu, menulis juga sebagai suatu proses. Siswa sekolah dasar yang normal dapat mengikuti proses menulis dengan
kecepatan relatif sama, dan bahwa setiap siswa yang normal dapat pula menyelesaikan masalah menulis dalam waktu yang berbeda-beda meskipun perbedaannya tidak terlalu banyak. (Samadhy, 1999 dalam http://digilib.unnes.ac.id)

Dari pengertian menulis tersebut dapat disimpulkan bahwa menulis adalah suatu proses mengungkapkan gagasan, pikiran, perasaan dalam bentuk tulisan.
Fungsi utama menulis adalah sebagai alat komunikasi tidak langsung, bukan tatap muka antara penulis dan pembaca.

2. Faktor-faktor Yang Menyebabkan Anak Mengalami Kesulitan Menulis
1. Lingkungan keluarga

Orang tua merupakan guru bahasa pertama yang memberikan makna lisan dari benda-benda yang ada disekitarnya. Namun terkadang orang tua kurang memperhatikan anaknya. Keberhasilan anak sekolah pada dasarnya dapat ditentukan pada apa yang dilakukan di rumah, dorongan serta rangsangan minat menulis anak. Luangkan waktu untuk membimbingnya, kenalkan anak pada huruf abjad, ajarkan pada anak cara memegang pensil yang benar, sikap menulis yang benar supaya anak memiliki kemampuan dasar menulis dari rumah.

2. Lingkungan sekolah
• adanya penggunaan metode pengajaran yang kurang tepat sehingga
timbul permasalahan dalam proses pembelajaran menulis anak
• materi – materi yang diajarkan belum tepat, belum sesuai dengan tingkat
perkembangan intelektual siswa Sekolah Dasar kelas I
• guru kurang memahami keinginan siswa
• siswa yang benar-benar malas belajar menulis. (http://digilib.unnes.ac.id)

3. Kesulitan Yang dihadapi Anak Dalam Menulis Permulaan
Sejak awal masuk sekolah anak harus belajar menulis dengan tangan karena kemampuan ini merupakan prasyarat bagi upaya belajar berbagai bidang studi yang lain. Kesulitan menulis dengan tangan tidak hanya menimbulkan masalah bagi anak, tetapi juga guru. Tulisan yang tidak jelas misalnya, baik anak maupun guru tidak dapat membaca tulisan tersebut. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan anak untuk menulis antara lain :

1) Motorik
Anak yang perkembangan motoriknya belum matang akan mengalami
gangguan atau kesulitan dalam menulis (tulisannya tidak jelas, terputus-putus
atau tidak mengikuti garis).

2) Perilaku
Anak yang hiperaktif atau yang perhatiannya mudah teralihkan, dapat
menyebabkan pekerjaannya terhambat, termasuk pekerjaan menulis.

3) Persepsi
Anak yang terganggu persepsinya dapat menimbulkan kesulitan dalam
menulis. Jika persepsi visualnya yang tergangu, anak mungkin akan sulit
membedakan bentuk-bentuk huruf yang hampir sama seperti d dengan b, p
dengan q, dan lain-lain. Namun jika persepsi auditorisnya yang terganggu,
mungkin anak akan mengalami kesulitan menulis kata-kata yang diucapkan
oleh guru.

4) Memori
Gangguan memori juga dapat menjadi penyebab terjadinya kesulitan belajar
menulis karena anak tidak mampu mengingat apa yang akan ia tulis.

5) Kemampuan melaksanakan cross modal
Kemampuan melaksanakan cross modal menyangkut kemampuan mentransfer
dan mengorganisasikan fungsi visual ke motorik.

6) Penggunaan tangan yang dominan
Anak yang tangan kirinya lebih dominan atau kidal, tulisannya juga sering
terbalik-balik dan kotor.

7) Kemampuan memahami instruksi
Jika anak tidak memiliki kemampuan untuk memahami instruksi dapat
menyebabkan anak sering keliru menulis kata-kata yang sesuai dengan
perintah guru. (Mulyono, 2003:227)

Kesulitan belajar menulis sering disebut juga dengan istilah disgrafia (disgraphia). (Jordon dikutip dalam Hallahan dkk, 1985 dalam Mulyono, 2003:227). Kesulitan belajar menulis yang berat disebut juga agrafia. Disgrafia menunjuk pada adanya ketidakmampuan mengingat cara membuat huruf atau simbol-simbol matematika. Disgrafia sering dikaitkan dengan kesulitan belajar membaca atau disleksia (dyslexia) karena jenis kesulitan tersebut sesungguhnya sangat terkait. (Mulyono, 1003:228). Kesulitan belajar menulis sering dikaitkan dengan cara anak memegang pensil yang dapat dijadikan sebagai petunjuk bahwa anak berkesulitan belajar menulis, yaitu (1) sudut pensil terlalu besar, (2) sudut pensil terlalu kecil, (3) menggenggam pensil, (4) menyangkutkan pensil ditangan atau menyeret. (Hornsby, 1984 dalam Mulyono, 2003:228). Jenis memegang pensil yang terakhir (menyeret pensil) adalah khas bagi anak kidal.

Untuk mengetahui apakah anak mengalami kesulitan menulis tangan, guru dapat melakukan observasi terhadap berbagai kemampuan sebagai berikut :
1) Menulis dari kiri ke kanan
2) Memegang pensil dengan benar
3) Menulis nama penggilannya sendiri
4) Menulis huruf-huruf
5) Menyalin kata-kata dari papan tulis ke buku atau kertas
6) Menulis pada garis yang tepat. (Mulyono, 2003:233).

4. Bimbingan yang Dilakukan Guru Dalam Mengatasi Anak yang
Mengalami Kesulitan Menulis Permulaan

Ada 15 macam aktifitas yang dapat digunakan untuk membantu anak berkesulitan belajar menulis dengan tangan (menulis permulaan) sebagai berikut :
1) Aktifitas menggunakan papan tulis
Aktivitas ini dilakukan sebelum pelajaran menulis yang sesungguhnya. Kepada anak disediakan papan tulis dan sepidol/kapur, dan pada papan tulis tersebut anak diberi kebebasan untuk menggambar garis, lingkaran, dsb.

2) Posisi
Untuk latihan menulis, anak hendaknya disediakan kursi yang nyaman dan meja yang cukup berat agar tidak mudah goyang. Kedua tangan anak diletakkan diatas meja, tangan yang satu untuk menulis dan tangan yang lain untuk memegang kertas bagian atas.

3) Kertas
Posisi kertas untuk menulis cetak sejajar dengan sisi meja, untuk menulis tulisan sambung 60 derajat ke kiri bagi anak yang menggunakan tangan kanan, dan 60 derajat ke kanan bagi anak yang menggunakan tangan kiri atau kidal. Agar kertas tidak bergerak, dapat direkat dengan selotip.

4) Memegang pensil
Banyak anak berkesulitan belajar menulis yang memegang pensil dengan cara yang tidak benar. Untuk memegang pensil yang benar, ibu jari dan telunjuk di atas pensil, sedangkan jari tengah berada di bawah pensil, dan pensil di pegang agak sedikit di atas bagian yang diraut. Bagi anak yang belum dapat memegang pensil dengan benar, bagian pensil yang harus dipegang dapat dibatasi dengan selotip, atau latihan dapat dimulai dengan sepidol besar, sepidol sedang, sepidol biasa, dan baru kemudian pensil.

5) Titik-titik
Guru membuat dua jenis huruf, huruf yang utuh dan huruf yang terbuat dari titik-titik. Selanjutnya, anak diminta untuk menghubungkan titik-titik tersebut menjadi huruf yang utuh
Contoh:

6) Menjiplak dengan semakin dikurangi
Pada mulanya guru menulis huruf utuh dan anak diminta untuk menjiplak huruf tersebut. Lama kelamaan guru yang menulis sebagian besar hingga sebagian kecil huruf tersebut dan anak diminta untuk meneruskan penulisan.
Contoh:

7) Buku bergaris tiga
Buku bergaris tiga sering disebut juga buku tebal tipis (halus kasar). Dengan buku bergaris semacam itu, anak dapat berlatih membuat dan meletakkan huruf-huruf secara benar.

8) Memperhatikan tingkat kesulitan penulisan huruf
Ada huruf yang mudah dan ada pula huruf yang sulit ditulis. Berbagai huruf yang mudah ditulis adalah m, n, t, i, u, r, s, l, dan e; sedangkan yang sulit adalah x, z, y, j, p, b, h,k,f, g, dan q. Anak hendaknya diajar menulis dengan huruf-huruf yang lebih mudah, meningkat ke yang lebih sulit, dan baru kemudian gabungan dari keduanya.

9) Bantuan verbal
Pada saat anak sedang menulis, guru dapat memberikan bantuan dengan mengucapkan petunjuk seperti “naik”, “turun”, “belok”, “stop”, dll.

10) Kata dan kalimat
Setelah anak mampu menulis huruf-huruf, latihan ditingkatkan dengan menulis kata-kata dan selanjutnya kalimat. Penempatan huruf, ukuran, dan kemiringan hendaknya juga memperoleh perhatian. (Lerner, 1988 dalam Mulyono, 2003: 240-243).

C. Pembelajaran Membaca dan Menulis Permulaan

Kemahiran membaca dan menulis seseorang sangat ditentukan oleh kemampuannya saat belajar membaca dan menulis permulaan. Pelajaran membaca dan menulis permulaan mengajarkan: (i) pengenalan huruf dan rangkaiannya, seperti: suku kata, kata, dan kalimat; (ii) cara menulis huruf, suku kata, kata, dan kalimat pendek dengan benar. Jadi pelajaran membaca dan menulis permulaan bertujuan untuk memberikan kemampuan mengenal huruf dan mengubahnya menjadi rangkaian bunyi yang bermakna serta melancarkan teknik membaca pada anak-anak (Purwanto dan Alim, 1997 dalam http://puslit2.petra.ac.id).

Pelajaran membaca dan menulis permulaan biasanya dimulai tanpa menggunakan buku pelajaran karena mereka belum dapat membaca. Walaupun pelajaran membaca dan menulis permulaan tidak dimulai dengan menggunakan buku tetapi tetap menggunakan tulisan. Ada beberapa alasan mengapa pelajaran membaca permulaan menggunakan tulisan (Burns dkk, 1984 dalam http://puslit2.petra.ac.id). Alasan pertama adalah pengenalan tulisan sejak awal dapat membuat anak memiliki pengalaman membaca yang baik dan memberikan pengaruh sikap yang baik dalam membaca. Kedua, anak dapat mulai menyadari bahwa tulisan merupakan rekaman bunyi yang teratur. Alasan ketiga, bagi pembaca pemula, kata-kata lebih mempunyai arti daripada dihafalkan. Hal ini berakibat, dengan mengajarkan kata sejak awal akan lebih mudah diingat oleh anak daripada menghafalkan huruf-huruf yang menyusun kata tersebut.

Selain dari ketiga alasan di atas ada beberapa alasan lain yaitu dengan menggunakan tulisan anak akan mempunyai tambahan pengetahuan bahwa membaca tulisan dan menulis dalam bahasa Indonesia itu harus dilakukan dari kiri ke kanan, dari atas ke bawah, mengenal kata-kata yang sering digunakan dan pengalaman-pengalaman baru lainnya yang tanpa disadari oleh si anak dan tanpa dipaksakan sudah terekam di otaknya. Pengenalan bentuk dan nama huruf yang diajarkan kepada siswa digunakan sebagai acuan kesamaan antara guru dengan siswa. Huruf yang diajarkan harus dimulai dengan huruf dari kata-kata yang sederhana dan sering digunakan oleh siswa atau sudah dikenal siswa, sehingga tidak memerlukan analisis tertentu untuk memahaminya, seperti huruf p sebagai awalan kata pintu. Hal ini diperlukan untuk memperkaya perbendaharaan tulisan dan memudahkan siswa untuk lebih cepat mengenal huruf dan rangkaiannya.

Huruf yang hampir sama atau bentuknya berbalikan, seperti huruf b dan d tidak boleh diajarkan pada waktu yang sama karena dapat membingungkan siswa. Yang penting di sini adalah siswa tidak boleh dipaksa untuk menghafalkan bentuk huruf-huruf alpabet karena akan sangat membosankan dan menyiksa bagi pembaca pemula sehingga tujuan yang ingin dicapai sulit terpenuhi. Selain pengenalan huruf, kemampuan untuk membedakan tulisan secara visual juga perlu dikembangkan sebelum siswa mulai mempelajari tulisan. Kemampuan ini dapat diasah dengan menunjukkan dua tulisan kata-kata yang hampir sama dengan disertai gambar, kemudian siswa diminta mencari huruf yang sama dan yang tidak sama dari kedua tulisan tersebut. Pelajaran mengenai perbedaan dan persamaan huruf pada sebuah tulisan akan membuat pengenalan siswa akan huruf menjadi jauh lebih mudah dibandingkan jika harus menghafalkan secara langsung. Dua kata, buta dan busa mempunyai sususan huruf yang sama kecuali huruf ketiga, yaitu huruf t pada kata buta dan huruf s pada kata busa. Melalui dua kata ini diharapkan siswa memperhatikan detail setiap huruf yang menyusun kata (Burns, dkk., 1998 http://puslit2.petra.ac.id).

Dalam mengajar membaca dan menulis permulaan, seorang guru harus hati-hati menyampaikan materi maupun melakukan perpindahan materi. Perpindahan materi dapat dilakukan jika siswa dirasa sudah mampu untuk mengikuti materi selanjutnya. Suatu materi yang belum dapat dikuasai oleh siswa harus diulang dengan cara yang lebih sederhana dan menyenangkan karena bila siswa merasa tertekan dikhawatirkan siswa akan menjadi bosan lalu frustasi karena merasa bodoh dan akhirnya menjadi minder dan tidak suka belajar membaca dan menulis lagi. Jadi, mengajarkan membaca dan menulis permulaan, seorang pengajar tidak boleh dibatasi oleh target waktu pertemuan yang dapat menyebabkan pengajar kurang memperhatikan kemampuan siswa karena terlalu fokus ke target waktu yang sudah ditentukan tersebut. Agar materi yang diberikan lebih mudah dan cepat dikuasai oleh siswa maka pengajar harus memiliki persiapan sebelum mengajar. Persiapan ini harus disesuaikan dengan perkembangan psikologi siswa, merencanakan pendekatan yang perlu dilakukan, melakukan evaluasi terhadap tingkat penguasaan siswa dan mempersiapkan pengayaan dan perbaikan yang perlu dilakukan.

Perkembangan psikologi anak yang perlu diperhatikan adalah perkembangan kognitif, perkembangan emosi, dan kebutuhan-kebutuhan lain. Perkembangan kognitif pada usia anak-anak memasuki taraf berfikir kongkret operasional, yaitu anak-anak hanya memahami materi dan konsep segala sesuatu yang kongkret atau nyata. Berdasarkan perkembangan kognitif anak, maka materi pelajaran yang diberikan juga harus sesuai yaitu harus dikaitkan dengan segala sesuatu yang nyata, sehingga lebih mudah dipahami. Perkembangan emosi pada anak-anak berkaitan dengan perkembangan kepribadian seperti memberi pujian pada saat seorang anak berhasil mengerjakan sesuatu dan tidak mencemooh jika gagal, sehingga anak tidak merasa putus asa ataupun rendah diri. Jadi, penggunaan kata-kata yang positif sangat diperlukan untuk mengajar membaca dan menulis permulaan.

Setiap orang mempunyai banyak kebutuhan seperti kebutuhan untuk dihargai, kebutuhan akan rasa aman, dan kebutuhan sosial. Hal ini menuntut seorang pengajar untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat mengaktualisasikan dirinya secara luas. Jika hal ini benar-benar dilaksanakan akan menumbuhkan rasa percaya diri siswa sehingga menimbulkan semangat dan rasa senang dalam belajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan maksimal. (Burns dkk., 1998 dalam http://puslit2.petra.ac.id).

D. Metode yang Digunakan dalam Pembelajaran Membaca dan Menulis
Permulaan

a) Metode Eja
Pembelajaran membaca dan menulis permulaan dengan metode ini memulai pengajarannya dengan mengenalkan huruf-huruf secara alpabetis. Huruf-huruf tersebut dilafalkan anak sesuai bunyinya menurut abjad. Setelah melalui tahapan ini , para siswa diajak untuk berkenalan dengan suku kata dengan cara merangkaikan beberapa huruf yang sudah dikenalnya.
Misalnya : b, a  ba (dibaca be.a  ba)
d,u  du (dibaca de.u  du)
ba-du dilafalkan badu

b, u, k, u menjadi b.u  bu (dibaca be.u  bu)
k.u  ku (dibaca ka.u  ku)

Proses ini sama dengan menulis permulaan, setelah anak-anak bisa menulis huruf-huruf lepas, kemudian dilanjutkan dengan belajar menulis rangkaian huruf yang berupa suku kata. Proses pembelajaran selanjutnya adalah pengenalan kalimat-kalimat sederhana. Contoh-contoh perangkaian huruf menjadi suku kata, suku kata menjadi kata, dan kata menjadi kalimat. Dalam pemilihan bahan ajar membaca dan menulis permulaan hendaknya dimulai dari hal-hal yang konkret menuju hal-hal yang abstrak, dari hal-hal yang mudah, akrab, familiar dengan kehidupan anak menuju yang sulit dan mungkin merupakan sesuatu yang baru bagi anak.

b. Metode Bunyi
Proses pembelajaran membaca permulaan dengan metode bunyi hampir sama dengan metode eja, hanya saja perbedaannya terletak pada sistem pelafalan abjad atau huruf.
Misalnya : huruf b dilafalkan /beh/
d dilafalkan /deh/
c dilafalkan /ceh/
g dilafalkan /geh/
p dilafalkan /peh/ dan sebagainya.

Dengan demikian kata “nani” dieja menjadi :
En.a  na
En.i  ni  dibaca  na-ni
Metode ini sebenarnya merupakan bagian dari metode eja. Prinsip dasar proses pembelajarannya tidak jauh berbeda dengan metode eja/abjad. Perbedaannya hanya terletak pada cara atau sistem pembacaan (pelafalan) abjad.

c. Metode Suku Kata dan Metode Kata
Prose pembelajaran membaca dan menulis permulaan dengan metode ini diawali dengan pengenalan suku kata seperti ba, bi, be, bu, bo, ca, ci, cu, ce, co, da, di, du, de, do, dan seterusnya. Suku-suku kata tersebut kemudian dirangkaikan menjadi kata-kata bermakna. Sebagai contoh, dari daftar suku kata tadi, guru dapat membuat berbagai variasi pada suku kata menjadi kata-kata bermakna, untuk bahan ajar membaca dan menulis permulaan, kata-kata tadi misalnya :

ba-bi cu-ci da-da ka-ki
ba-bu ca-ci du-da ku-ku
bi-bi ci-ca da-du ka-ku
ba-ca ka-ca du-ka ku-da

Kegiatan ini dapat dilanjutkan dengan proses perangkaian kata menjadi kalimat sederhana. Contoh perangkaian kata menjadi kalimat dimaksud seperti pada contoh dibawah ini :

ka-ki ku-da
ba-ca bu-ku
cu-ci ka-ki (dan sebagainya).

Jika kita simpulkan , langkah-langkah pembelajaran membaca dan menulis permulaan dengan metode suku kata adalah:
1) tahap pertama, pengenalan suku-suku kata
2) tahap kedua, perangkaian suku-suku kata menjadi kata
3) tahap ketiga, perangkaian kata menjadi kalimat sederhana
4) tahap keempat, pengintegrasian kegiatan perangkaian dan pengupasan (kalimat
kata-kata  suku kata kata).

d. Metode Global
Sebagai contoh, dibawah ini merupakan bahan ajar untuk membaca dan menulis permulaan yang menggunakan metode global.
1) memperkenalkan gambar dan kalimat
2) menguraikan salah satu kalimat menjadi kata; kata menjadi suku kata; suku
kata menjadi huruf-huruf.
Misalnya : ini mimi
ini mimi

i-n-i mi-mi
i-n-i m-i-m-i

e. Metode SAS (Struktural Analitik Sintetik)
SAS merupakan salah satu jenis metode yang biasa digunakan untuk proses pembelajaran membaca dan menulis permulaan bagi siswa pemula. Pembelajaran membaca dan menulis permulaan dengan metode ini mengawali pelajarannya dengan menampilakan dan mengenalkan sebuah kalimat utuh. Mula-mula anak disuguhi sebuah struktur yang memberi makna lengkap, yakni struktur kalimat.

Kemudian melalui proses analitik, anak-anak diajak untuk mengenal konsep kata. Kalimat utuh yang dijadikan tonggak dasar untuk pembelajaran membaca permulaan ini diuraikan ke dalam satuan-satuan bahasa yang lebih kecil, yang disebut kata. Proses penganalisisan atau penguraian ini terus berlanjut hingga sampai pada wujud satuan bahasa terkecil yang tidak bisa diuraikan lagi, yakni huruf-huruf.

Pada tahap selanjutnya, anak-anak didorong untuk melakukan kerja sintesis (menyimpulkan). Satuan-satuan bahasa yang telah terurai tadi dikembalikan lagi kepada satuannya semula, yakni dari huruf-huruf menjadi suku kata, dan kata-kata menjadi kalimat. Dengan demikian, melalui proses sintesis ini, anak-anak akan menemukan kembali wujud struktur semula, yakni sebuah kalilmat utuh. Bahan ajar untuk pembelajaran dengan metode ini tampak sebagai berikut :

ini mama
ini mama
i-ni ma-ma
i-n-i m-a-m-a
i-ni ma-ma
ini mama
ini mama

Uraian ini ditutup dengan penyimpulan bahwa tidak ada metode yang terbaik, semua memiliki kelebihan dan kekurangannya. (Hartati dkk, 2006:138-143). Selain itu, metode pembelajaran di atas dapat diterapkan pada siswa kelas rendah (I dan II) di sekolah dasar. Guru dianjurkan memilih salah satu metode yang cocok dan sesuai untuk diterapkan pada siswa. Guru sebaiknya mempertimbangkan pemilihan metode pembelajaran yang akan digunakan. Yaitu sebagai berikut:
1. Dapat menyenangkan siswa.
2. Tidak menyulitkan siswa untuk menyerapnya.
3. Bila dilaksanakan, lebih efektif dan efisien.
4. Tidak memerlukan sarana dan fasilitas yang lebih rumit. (http://tarmizi.wordpress.com).

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Mulyono. 2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta : PT Asdi Mahasatya.

Diakses dari : http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi.1/import/2112.pdf / 270909/15:45.

Diakses dari : http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi.1/tmp/2251.html 270909/15:60.

Diakses dari : http://hudaita.blogspot.com/2009/01/pembelajaran-membaca-permulaan-dengan.html/290909/16:00.

Diakses dari : http://mbahbrata-edu.blogspot.com/2009/08/pembelajaran-membaca-permulaan-melalui.html/270909/16:30.

Diakses dari : http://puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.php/tik/article/view PDFInterstitial/16941/16927/101009/11:00.
Diakses dari : http://tarmizi.wordpress.com/2008/12/02/penerapan-metode-pembelajaran-membaca-permulaan/290909/16:20.

Hartati dkk.(2006). Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Bandung: UPI PRESS.

Rahim, Farida. 2005. Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar. Jakarta : Bumi Aksara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s