Konsultasi dan Kesulitan Belajar Siswa SD


KESULITAN DALAM MENGIKUTI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA KELAS RENDAH 1

Latar Belakang

Dunia pendidikan mengartikan diagnosis kesulitan belajar sebagai segala usaha yang dilakukan untuk memahami dan menetapkan jenis dan sifat kesulitan belajar. Faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar serta cara menetapkan dan kemungkinan mengatasinya, baik secara kuratif penyembuhan maupun secara preventif pencegahan berdasarkan data dan informasi yang seobyektif mungkin.

Dengan demikian, semua kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk menemukan kesulitan belajar termasuk kegiatan pengamatan terhadap sikap dan perilaku siswa.
Diagnosis belajar karena berbagai hal. Pertama, setiap siswa hendaknya mendapat kesempatan dan pelayanan untuk berkembang secara maksimal, kedua; adanya perbedaan kemampuan, kecerdasan, bakat, minat dan latar belakang lingkungan masing-masing siswa. Ketiga, sistem pengajaran di sekolah seharusnya memberi kesempatan pada siswa untuk maju sesuai dengan kemampuannya. Keempat, untuk menghadapi permasalahan yang dihadapi oleh siswa, hendaknya guru beserta BP lebih intensif dalam menangani siswa dengan menambah pengetahuan, sikap yang terbuka dan mengasah ketrampilan dalam mengidentifikasi kesulitan belajar siswa. (http://fauzy.kotangawi.com/files/2008/11/makalah_klinik-pembelajaran.pdf.15.56)

Tujuan pembahasan dalam makalah ini adalah :
a. Mengidintifikasi berbagai permasalahan kesulitan pembelajaran.
b. Mengkaji berbagai persoalan tentang permasalahan belajar.
c. Alternatif mengatasi permasalahan pembelajaran

PEMBAHASAN
A. Permasalahan
Pengamatan kami terhadap siswa-siswi Sekolah Dasar Negeri 11 Metro Pusat atau di kelas menuliskan kasus pada anak kelas 1 yang mengalami gejala-gejala perilaku yang khususnya pada pambelajaran Bahasa Indonesia. Tipe karakteristik anak dan gejala-gejalanya secara khas.
1. Ciri perilaku Pembosan
2. Ciri perilaku Pemalu
3. Ciri perilaku Penakut
4. Ciri perilaku Bersemangat

Anak kelas 1 yang mengalami masalah Ipan Saputra yang mengalami kesulitan dalam hal mengingat huruf sehingga agak terlambat ketika dalam pembelajaran ketika ada tulisan di papan tulis. Kedua Vinka Dea Asmara yang mengalami kesulitan dalam hal membaca tetapi dapat menulis. Atau teman-teman mereka yang lain seperti Elsa Anggita Putri mengalami dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia yaitu menyimak, membaca dan menulis juga berbicara.

B. Pembahasan
Semua guru ingin murid-muridnya memiliki prestasi belajar yang baik. Sekarang ini akibat era informasi dan teknologi canggih memberi peluang untuk banyak siswa agar menjadi lebih cerdas daripada jaman sebelumnya. Peluang membantu anak menjadi cerdas dan mengembangkan potensi menjadi lebih luas dan lebih terbuka.

Media dan sumber belajar demikian pesat berkembang. Namun, kenyataannya tidak selalu seperti yang dicita-citakan seorang guru. Didukung dengan tayangan audio visual berbagai kasus contoh ganguan sosial dan emosional anak usia SD/ MI. Ciri-ciri anak ini tidak bisa duduk diam di kelas, anak ini terus bergerak. Kadang anak ini berlarian, meloncat, bahkan berteriak-teriak dan menggangu temannya yang sedang belajar. Anak ini sulit di kontrol untuk melakukan aktivitas secara teratur dan tertib. Anak ini suka mengganggu teman sekelas. Ia adalah anak “Hyperactive/ hiperaktif”.

Tipe anak ini cenderung cepat bosan, anak ini mudah mengalihkan perhatiannya ke berbagai objek lain di kelas. Anak ini mudah dipengaruhi sulit memusatkan perhatian pada kegiatan yang berlangsung di kelas. Anak seperti ini disebut “Distractibility Child”. Anak pendiam. Ia sangat perasa/ sensitif, anak ini mudah tersinggung. Sikapnya pasif dan cenderung tidak berani bertanya, karena merasa diri tidak mampu. Anak seperti ini kurang bergaul, ia disebut “Poor Self Concept”.

Di kelas acap kali dijumpai anak yang cepat bereaksi. Anak serupa ini langsung berbicara, tanpa menghiraukan pertanyaan guru jawaban spontan kurang mendukung kemampuan berfikir logis. Anak ini berteriak pada saat menjawab, anak seperti ini ingin menunjukkan diri sebagai anak pandai. . Ia disebut anak “Impulsive”. Anak ini tipe perusak. Sikapnya agresif ke arah negatif, suka membanting atau melempar. Anak ini termasuk anak yang bermasalah (trouble maker). Sikap mudahtersinggung dengan temperamen yang tinggi dan suka merusak. Ia disebut “Distractive Behavior”.
Anak berusia 6 tahun 2 bulan duduk di kelas I SD/ MI berusia anak ini takut ditinggal sendiri di kelas. Sikap over protective ibunya, membuat anak
ini bergantung. Ia termasuk anak yang “Dependency”. Anak yang merasa dirinya
bodoh dan malu untuk pergi ke sekolah. Sosial ekonomi orang tua
yang menyebabkan anak ini menjadi anak pemalu. Ia memiliki rasa harga
diri yang rendah. Ia disebut anak “Withdrawl”.

Proses pemecahan kesulitan belajar pada siswa seorang guru harus memiliki yaitu dimulai dengan memperkirakan kemungkinan bantuan apakah siswa tersebut masih mungkin ditolong untuk mengatasi kesulitannya atau tidak, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengatasi kesulitan yang dialami oleh siswa tertentu, dan dimana pertolongan itu dapat diberikan. Perlu dianalisis pula siapa yang dapat memberikan pertolongan dan bantuan, bagaimana cara menolong siswa yang efektif, dan siapa saja yang harus dilibatkan dalam proses konseling.

Dalam proses pemberian bantuan, guru juga berperan sebagai bimbingan yang intensif dan berkelanjutan agar siswa dapat mengembangkan diri secara optimal dan menyesuaikan diri terhadap perkembangan pribadinya dan lingkungannya. Kemampuan itu yang harus dimiliki menyeluruh berkait dengan perannya sebagai seorang konselor, tiap individu konselor harus memiliki kemampuan guru yang profesional yaitu mampu melakukan langkah-langkah
1. Mengumpulkan data tentang siswa
2. Mengamati tingkah laku siswa
3. Mengenal siswa yang memerlukan bantuan khusus
4. Mengadakan komunukasi dengan orang tua siswa untuk memperoleh
keterangan dalam pendidikan anak.
5. Bekerjasama dengan masyarakat dan lembaga yang terkait untuk membantu
memecahkan masalah siswa
6. Membuat catatan pribadi siswa
7. Menyelenggarakan bimbingan kelompok ataupun individual
8. Bekerjasama dengan konselor yang lain dalam menyusun program bimbingan
sekolah
9. meneliti kemajuan siswa baik

(http://fauzy.kotangawi.com/files/2008/11/makalah_klinik-pembelajaran.pdf.15.56
http://www.percikan-iman.com/mapi – Majalah Percikan Iman Generated: 27 December, 2008, 03:00

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s