Budaya, Logika dan Retorika


Budaya, Logika dan Retorika

Logika, yang merupakan landasan retorika, berasal dari budaya yang tidak universal sifatnya. Karena itu, retorikapun juga tidak universal, tetapi bervariasi dari satu budaya ke budaya lainnya. Sistem retorika atau satu bahasa tidak dapat dikatakan lebih baik dari atau lebih buruk dari sistem retorika bahasa lain. Logika dan bahasa inggris, yang berdasarkan atas pola budaya Anglo-Saxon, bersifat linier- yaitu, suatu paragraf bahasa Inggris yang baik diawali dengan satu pernyataan umum yang menyangkut seluruh isi paragraf itu dengan kemudian pernyataan umum itu dikembangkan dengan serangkaian ilustrasi. Paragraf berbahasa inggris yang baik juga bisa berupa rangkaian yang sebaliknya; paragraf itu dimulai dengan serangkaian contoh dan kemudian diakhiri dengan pernyataan umum yang menyimpulkannya. Pola manapun yang dipakai tidak menjadi masalah, yang penting ialah adanya arus pikiran yang berjalan menurut garis lurus sejak dimulainya pernyataan pertama sampai pernyataan yang terakhir. Dengan demikian, satu paragraf dalam bahasa Inggris yang tersusun dengan baik tidak akan pernah menyimpang. Tak ada pikiran yang tidak termasuk dalam paragraf, dan tidak ada pula kalimat penunjang yang tidak mendukung kalimat topik. Jenis konstruksi paragraf lainnya terdapat pada tulisan-tulisan dari budaya Arab dan Parsi. Jika penulis-penulis dari Inggris suka menggunakan pikiran secara berurutan menurut garis lurus, penulis-penulis Arab dan Parsi cenderung menulis paragraf dengan pola yang bersifat paralel dengan menggunakan kata-kata penghubung dan dan tetapi dalam frekuensi yang cukup tinggi. Dalam budaya Inggris, kematangan gaya tulisan sering dinilai dari derajat subordinasi, bukan dari tingginya derajat koordinasi. Karena itu gaya penulis-penulis Arab dan Parsi dengan penekanan koordinasi itu terasa janggal dan kurang matang bagi penulis-penulis yang berlatar belakang budaya Inggris. Sebaliknya, penulis-penulis Asia senang menggunakan pendekatan tak langsung. Dalam tulisan semacam ini, topiknya dilihat dari berbagai segi. Topiknya sendiri tidak pernah dianalisis secara langsung. Tulisan semacam inipun bagi orang-orang berlatar belakang budaya Inggris akan terasa aneh dan samar makna yang dikehendakinya. Retorika bahasa Spanyol juga berbeda dengan retorika bahasa Inggris. Sementara kaidah retorika budaya Inggris mensyaratkan setiap kalimat dalam satu paragraf berkaitan langsung dengan ide pokok, tulisan-tulisan dalam sistem retorika bahasa Spanyol penuh dengan penyimpangan-penyimpangan yang tidak perlu. Meskipun paragraf dalam bahasa Spanyol itu mungkin diawali dan diakhiri dengan topik yang sama, penulisnya sering menyimpang ke masalah yang tidak ada hubungan langsung dengan topiknya. Karena itu retorika bahasa Spanyol tidak mengikuti kaidah keutuhan dalam sistem retorika bahasa Inggris. Singkatnya, walaupun seseorang telah menguasai benar tatabahasa bahasa Inggris, belum tentu ia dapat menulis atau membaca tulisan yang berlatar budaya Inggris jika ia belum menguasai sistem retorika dan logika budaya Inggris.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s