Kepribadian Tanpa Nama


Kepribadian
Tanpa Nama

Kepribadian adalah hasil keseluruhan pola perilaku yang berasal dari kemampuan individu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Definisi yang lebih jelas tentang kepribadian ini barangkali dapat diperoleh dengan cara melihat secara cermat tiga macam teori perkembangan kepribadian berikut. Teori pertama menekankan ciri fisiologi sebagai yang paling utama, dengan faktor motivasi, dorongan, dan belajar, sebagai faktor kedua. Teori kedua menekankan motivasi dan dorongan sebagai yang utama dan teori ketiga menekankan pada perilaku sosial yang bisa dipelajari sebagai dasar kepribadian.
Teori fisiologi merupakan teori yang paling kuno di antara tiga teori di atas, bermula pada jaman Yunani kuno. Teori ini membenarkan pentingnya sifat keturunan dan sifat fisik dalam perkembangan perilaku. Penelitian terakhir mengenai masalah ini cenderung mengarah kepada penyusunan klasifikasi individu menurut sifat fisiknya dengan upaya menghubungkan sifat-sifat fisik itu dengan emosi, motivasi, dan dorongan tertentu. Melalui serangkaian penyelidikan dan wawancara, seorang peneliti yang bernama William Sheldon mencoba membuat klasifikasi kepribadian individu ke dalam endomorfik, mesomorfik, dan ektomorfik. Kepribadian yang endomorfik biasanya terdapat pada orang-orang yang bulat dan pendek dengan tulang dan otot yang agak lunak dan pinggang yang besar. Sheldon mengenali orang dengan keadaan fisik yang demikian sebagai orang yang temperamennya halus, penuh toleransi, mudah puas, dan agak lamban dalam memberikan reaksi. Kepribadian mesomorfik terdapat pada orang yang bertubuh atletis dengan tulang dan otot yang kuat. Orang yang berkepribadian mesomorfik ini cenderung bersikap tegas, gesit, kompetitif, bersemangat; tetapi, fisik dan emosinya tak terkendali. Sebaliknya, orang yang berkepribadian ektomorfik, fisik dan emosinya terkendali. Orang yang berkepribadian seperti ini mudah tersinggung, selalu merasa khawatir terhadap lingkungan social di sekitarnya, cepat bereaksi, bertubuh kurus dengan tangan dan kaki yang panjang. Sheldon memperhatikan bahwa kebanyakan orang memiliki kepribadian yang merupakan kombinasi dua atau tiga tipe itu, tetapi dalam banyak hal ada satu sifat yang dominan dari ketiga tipe itu pada masing-masing individu. Ada pula penelitian lain yang menolak adanya keterkaitan anatara bentuk tubuh dengan kepribadian seseorang, tetapi para ahli psikologi mengakui kebenaran teori yang mengatakan bahwa sifat manusia berasal dari ciri-ciri genetika dan fisik seseorang merupakan faktor utama dalam perkembangan kepribadian seseorang.
Teori perkembangan kepribadian yang menarik, tetapi lebih kompleks, adalah teori psikoanalisis, yang menggambarkan bahwa manusia dikuasai oleh pikiran dan motif yang tak disadari, bukan oleh sifat genetika. Sigmund Freud, orang yang pertama kali mengemukakan metode psikoanalitik, mengakui bahwa jiwa manusia sebagian terkondisi oleh keturunan dan pengalaman, tetapi sebagian besar dikendalikan oleh motif dasar yang tak disadari. Motif dasar yang tak disadari ini jarang tampak secara jelas dalam perilaku; sebaliknya, motif ini ditekankan di bawah sadar. Menurut Freud, penekanan motif dan keinginan ini menyebabkan terbentuknya rasa cemas dan mekanisme bela diri untuk menutupi rasa bersalah, yang seterusnya menghasilkan cara-cara tersendiri dalam perilaku yang dapat diamati, yang dapat disebut sebagai kepribadian. Untuk menjelaskan lebih jauh penekanan ke bawah sadar dorongan primer serta dampaknya terhadap perkembangan kepribadian, Freud membagi jiwa manusia ke dalam tiga bagian, yaitu id, ego dan superego. Ia mendefinisikan id sebagai bagian jiwa yang tidak disadari manusia tempat terdapatnya dorongan primitif yang dibawa sejak lahir oleh setip individu. Dorongan ini menuntut segera dipenuhinya semua keinginan atau nafsu. Ego atau kesadaran berkembang sejajar dengan umur dan pengalaman manusia. Ego adalah bagian jiwa yang bertindak sebagai mediator antara tuntutan id dan realitas yang terdapat pada lingkungan manusia, mengendalikan dorongan primitif id untuk menyesuaikan dengan kode etik perilaku yang dapat diterima masyarakat. Dalam arti luas, superego ialah nurani manusia. Superego inilah yang menentukan manusia mempunyai rasa benar atau salah terhadap perilaku sesuai dengan kode etik yang telah ditetapkan oleh masyarakat, lingkungan manusia hidup. Superego itu pula yang menjadi dasar moral. Rasa bersalah dan menghukum diri-sendiri adalah pengaruh superego pada individu. Dengan demikian, meurut Frued, kepribadian manusia merupakan hasil akhir penyesuaian diri terhadap penekanan dorongan dan motif. Modifikasi gagasan Frued itu telah membekali para ahli psikologi utnuk merumuskan konsep-konsep rasa rendah hati (inferiorty complex), kebutuhan akan keamanan, dan perilaku yang terbuka serta perilaku yang tertutup.
Teori kepribadian yang paling baru adalah teori pengalaman sosial yang menyatakan bahwa semua perilaku manusia merupakan hasil “conditioning.” Teori ini mengemukakan gagasan bahwa conditioning bertanggungjawab atas pembentukan motif dalam diri individu, bukannya motif itu sendiri yang mempengaruhi perilaku yang dipelajari. Meskipun dorongan primitif diakui juga oleh teori dorongan sosial, pentingnya sebagai unsur formatif dianggap sebagai sekunder saja dibandingkan dengan adanya pengaruh penghargaan dan hukuman untuk suatu tindakan tertentu. Sebagian besar landasan teori pengalaman sosial itu diambil dari gagasan B.F. Skinner yang telah membuktikan bahwa kebanyakan apa yang kita anggap sebagai perilaku normal itu adalah akibat langsung dari penguatan (reinforcement). Jika setiap tindakan mendapatkan penguatan, kemungkinan terulangnya tindakan itu dapat dipastikan meningkat. Sebaliknya, jika suatu tindakan tidak mendapatkan penghargaan atau malah mendapatkan hukuman, kemungkinan untuk terulangnya tindakan itu kecil sekali. Teori pengalaman sosial ini berlaku pada semua perilaku, termasuk perilaku yang tidak normal.
Semua teori di atas menyangkut masalah kepribadian. Meskipun terdapat daftar perilaku kepribadian yang tak ada habis-habisnya yang terjadi dalam berjuta-juta kombinasi di antara individu yang berbeda, tiga pendekatan terhadap konsep pembentukan kepribadian ini berusaha untuk mengorganisasikan berbagai tingkah laku manusia ke dalam prinsip umum yang menitikberatkan masalah pengaruh daftar perubahan perilaku. Meskipun semua ahli psikologi sependapat atas faktor-faktor pembentukan kepribadian-keturunan, dorongan, motif, emosi, dan conditioning-faktor khusus yang mendapatkan penekanan yang berat itulah yang menandai adanya perbedaan di antara mereka itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s