Laskar Pelangi dan Orang-Orang Sawang


Laskar Pelangi dan
Orang-Orang Sawang

PAPILIO blumel, kupu-kupu tropis yang menawan berwarna hitam menggaris biru-hijau itu mengunjungi pucuk filicium. Kehadiran mereka semakin cantik karena kehadiran kupu-kupu kuning berbintik metalik yang disebut pure clouded yellow. Mereka dan lidah atap sirap cokelat yang rapuh menyajikan komposisi warna kontras di atas sekolah Muhammadiyah. Dua jenis bidadari taman itu melayang-layang tanpa bobot bersukacita. Tak lama kemudian, seperti tumpah dari langit, ikut bergabung kupu-kupu lain, danube clouded yelow.

Hanya para ahli yang dapat membedakan clouded yellow dengan danube clouded yelow, berturut-turut nama latin mereka adalah Colias crocea dan colias myrmidone. Di mata awan kecantikan mereka sama: absolut dan hanya dapat dibayangkan melalui keindahan namanya. Keduanya adalah si kuning berawan yang mempesona laksana Danau Danube melintasi Eropa: sejuk, elegan, dan misterius. Berbeda denagn tabiat unggas yang cenderung agresif dan eksibionis, mahluk-mahluk bisu berumur pendek ini bahkan tak tahu kalu dirinya cantik. Meskipun jumlahnya ratusan, tapi kepak sayapnya senyap dan mulut mungil indahnya diam dalam kerupawanan yang melebihi taman lotus. Melihat rasanya aku ingin menulis puisi.

Saat ratusan pasang danube clouded yelow berpatroli melingkari lingkaran daun-daun filicium, maka mereka menjelma menjadi pasir-pasir kuning di Darmaga Olivir. Sayap-sayap yang menyala itu adalah fatamorgana pantulan cahaya matahari, berkilauan di atas butiran-butiran ilmenit yang terangkat abrasi. Sebuah daya tarik Belitong yang lain, pesona pantai dan kekayaan material tambang yang menggoda.

Kupu-kupu clouded yellow dan papilio blumei saling bercengkraman dengan harmonis seperti reuni besar bidadari penghuni berbagai surga dari agama yang berbeda-beda. Jika diperhatikan dengan seksama, setiap gerakan mereka, sekecil apapun, seolah digerakan oleh semacam mesin keserasian. Mereka adalah orkestra warna dengan insting sebagai konduktornya. Dan agaknya dulu memang telah diatur jauh-jauh hari sebelum mereka bermetafosis, telah tercatat di Lauhul Mahfuzh saat mereka masih meringkuk berbedak-bedak dalam gulungan-gulungan daun pisang, bahwa sore ini mereka akan menari-nari di pucuk-pucuk filicium, bersenda gurau, untuk memberikan pelajaran keagungan Tuhan.

Kupu-kupu ini sering melakukan reuni setelah hujan lebat. Sayangnya sore ini, pemandangan seperti butiran-butiran cat berwarna-warni yang dihamburkan dari langit itu serentak bubar dan harmoni ekosistem hancur berantakan karena serbuan sepuluh sosok Homo Sapiens. Mahluk-mahluk brutal ini memanjati dahan-dahan filicium, bersorak-sorai, dan bergelantungan mengklaim dahannya masing-masing. Kawanan ini dipimpin oleh setan kecil bernama Kucai. Berada pada posisi puncak rantai makanan seolah melegitimasi kecendrungan Homo sapiens untuk merusak tatanan alam.

Kucai mengangkangi dahan tertinggi, sedangkan Sahara, satu-satunya betina dalam kawanan itu, bersilang kaki di atas dahan terendah. Pengaturan semacam itu bukan karena budaya patriarki begitu kental dalam komunitas Melayu, tetapi karena pakaian Sahara tidak memungkinkan ia berada di atas kami. Ia adalah muslimah yang menjaga aurat rapat-rapat.

Kepentingan kami tak kalah mendesak dibanding kaum unggas, fungi, dan makhluk lainnya terhadap filicium karena dari dahan-dahannya kami dapat dengan leluasa memandang pelangi.

Kami sangat menyukai pelangi. Bagi kami pelangi adalah lukisan alam, sketsa Tuhan yang mengandung daya tarik mencengangkan. Tak tahu siapa di antara kami yang pertama kali memulai hobi ini, tapi jika musim hujan tiba kami tak sabar menunggu kehadiran lukisan langit menakjubkan ini. Karena kegemaran kolektif terhadap pelangi maka Bu Mus menamai kami kelompok Laskar Pelangi.

Sore ini, setelah hujan lebat sepanjang hari, terbentang pelangi sempurna, setengah lingkaran penuh, terang benderang dengan enam lapis warna. Ujung kanannya berangkat dari Muara Genting seperti pantulan permadani cermin sedangkan ujung kirinya tertanam di kerimbunan hutan pinus di lereng Gunung Selunar. Pelangi yang menghujam daratan ini melengkung laksana jutaan bidadari berkebaya warna-warni terjun menukik ke sebuah danau terpencil, bersembunyi malu karena kecantikannya.

Kini filicium menjadi gudah karena kami bertengkar bertentangan pendapat tentang panorama ajaib yang terbentang melingkupi Belitong Timur. Berbagai versi cerita mengenai pelangi menjadi debat kusir, dongeng yang paling seru tentu saja dikisahkan oleh Mahar. Ketika kami mendesaknya ia sempat ragu-ragu. Pandangan matanya mengisyaratkan bahwa: kalian tidak akan bisa menjaga informasi yang sangat penting ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s