Pulau Dewata


Pulau Dewata
Christopher Lucas

Saat-saat menjelang senja, matahari yang perkasa dengan warna keemasan itu perlahan bersembunyi di balik pohon-pohon kamboja merah seolah melukiskan bayangan ungu di seberang lereng-lereng gunung yang menebarkan hamparan batu zamrud. Anak-anak gembala dengan tongkat bambunya menghalau itik-itiknya yang patuh pulang kandang; lainnya bertengger seenaknya di atas punggung kerbau masing-masing. Seperti yang telah diukir di tepi-tepi bukit, sawah-sawah yang tergenang air memantulkan bayangan gumpalan-gumpalan awan di antara langit biru. Senda gurau yang penuh dengan gelak tawa mengiringi para petani pulang dari sawahnya.

Tatkala temaram senja kala mulai datang, para wanita –banyak di antaranya yang menggendong bejana untuk mengambil air –beriring menuruni sungai yang tepinya penuh ditumbuhi semak-semak mandi di kejernihan arus dangkal yang kemilau oleh keremangan senja. Asap dari ratusan dapur penduduk melingkar-lingkar ke atas berpacu menuju langit jingga saat matahari terbenam. Bila malam tiba dan lampu-lampu minyak mulai dinyalakan, terdengarlah sbunyi gamelan yang merdu dati sanggar-sanggar seniman Ubud. Dalam sebuah sanggar tari, tiga dara ramping yang tubuhnya berbalut sutera emas menari dengan gemulainya; jari-jemarinya yang lentik menghibas seperti kupu-kupu. Yang lain menjunjung kerucut dari bunga dan buah berseling warnaa seperti pelangi menuju pura.

Pada berpuluh-puluh halaman rumah penduduk yang biasanya terletak di antara kolam yang penuh dengan bunga teratai dan gapura yang berukir indah, gadis-gadis duduk dengan berbagai gaya kesantaian desa, siap dilukis oleh seniman-seniman muda tanpa ada kesan ketergesaan. Seorang seniman tua mengukir seekor kijang dari kayu hitam, sementara putranya mengukir perhiasan perak.

Sekitar pukul delapan atau sembilan malam seluruh desa telah tidur lelap. “Kami punya irama hidup sendiri,” begitu kata Nyomn Lempad, yang hidup dari bertani dan melukis. “Kami biarkan segala sesuatu terjadi seperti apa adanya. Hujan turun, padi menghijau, kemudian menguning, dan kami merasa bahagia”. Lempad sendiri telah berusia 103 tahun, tetapi masih tampah kukuh.

Bali yang terletak di sebelah timur pulau Jawa dan di sebelah selatan pulau Kalimantan itu benar-benar merupakan surga dunia di bumi. Pulau yang panjangnya kira-kira 90 mil dan 55 mil lebarnya itu hanyalah sebuah noktah saja di antara kepulauan Indonesia yang panjangnya kira-kira 3.400 mil itu. Tetapi, jengkal demi jengkal, pulau ini merupakan tempat yang penuh persona, dengan 2,5 juta penduduk yang sikapnya sangat mengagumkan. Prianya, berkulit sawo matang dan berperawakan langsing, memberikan kesan warga ningrat. Wanitanya berkain jarit agak ketat, warna kulitnya langsat bersih dengan gerak mata yang jelita dan gerakan tubuh yang gemulai.

Insan yang penuh kebahagiaan ini lebih dari sekedar enak untuk dilukis. Sebagai pewaris budaya yang penuh getaran, orang-orang Bali adalah pengikut setia agama Hindu. Mereka mempunyai bahasa yang klasik; mereka memiliki sistem tulisan sendiri; dan mereka mempunyai sistem kalender sendiri pula. Darah seni mereka mengalir di semua cabang seni, melukis, mengukir, menari, menyanyi dan bermain musik.

Bali adalah asmara. Bali adalah impian. Sawah-sawahnya yang kemilau dengan bentuknya yang simetri, berhiaskan dangau-dangau bambu dan atap ijuk; rumah-rumahnya dengan pura yang artistik; dan pura-pura yang besar dengan batu-batu merah yang khas.
Ya, Bali memang surga. Tetapi, sebagaimana nirwana-nirwana yang lain, Bali juga memiliki sisi yang hitam. Pemandangannya yang indah selalu dihantui gunung berapi yang setiap saat siap meletus, memuntahkan lava menghambur di hamparan padi, atau mengubur rumah dan pura. Terkadang Bali juga diguncang gempa bumi yang mampu mengoyak-ngoyak dan memperorak-porandakan rumah-rumah dan pura-pura bersama penghuninya. Sungguh Bali merupakan tempat berebut kebaikan dan kejahatan. Tetapi, justru sifatnya yang mempertemukan kebaikan dan kejahatan inilah yang menjadikan Bali mengagumkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s