Shakespeare dan “Saudara Wanitanya”


Shakespeare dan “Saudara Wanitanya”
Virginia Woolf

Ketika saya memperhatikan karya-karya Shakespeare di rak buku, saya menjadi berpikir bahwa apa yang dikatakan uskup benar, terutama mengenai satu hal: sama sekali tidak mungkin bagi seorang wanita yang berbakat sama dengan Shakespeare, pada jamannya, menulis karya-karya drama seperti yang telah dikerjakan Shakespeare.

Pada masa remajanya, Shakespeare masuk sekolah menengah. Di sekolah itu, ia belajar bahasa Latin, Ovid, Virgil dan Horace. Dia juga belajar unsur-unsur tata bahasa dam logika. Pada masa mudanya dia dikenal sebagai anak “liar” yang suka menguliti kelinci, dan berburu rusa. Dia juga dikenal kawin terlalu muda karena menghamili tetangganya, yang kemudian melahirkan anaknya pada usia remaja.

Petualangannya itu mendorongnya mengadu nasib ke London. Tampaknya ia mempunyai bakat di panggung. Ia memulai kariernya sebagai penjaga pintu panggung. Tak lama kemudian, ia mendapatkan peranan di panggung. Ia menjadi aktor yang berhasil, dan hidup di dunia yang gemerlapan, berkesempatan bertemu dengan orang-orang ternama., mengenal mereka, mulai dari kelas bawah, menengah, atas, dan akhirnya sampai ke istana ratu. Pengalaman dan pengamatannya terhadap berbagai perilaku manusisa dari berbagai tingkatan itu diterapkannya di panggung.

Sementara itu, wanita yang mungkin memiliki bakat yang sama dengan dia tinggal di rumah saja. Wanita ini sebenarnya sama-sama memiliki bakat bertualang, memiliki kemampuan imajinasi yang sama, dan sama-sama ingin “melihat dunia” seluas yang dirasakan Shakespeare. Tetapi pada jaman itu wanita tidak di sekolahkan. Jadi, ia tidak mempunyai kesempatan belajar bahasa Latin dan logika, apalagi membaca Ovid, Virgil dan Horace. Mungkin saja secara kebetulan dia mempunyai kesempatan melihat-lihat buku saudara laki-lakinya yang kebetulan tergeletak di meja, sehingga ia dapat melihat beberapa huruf dan kata pada buku itu. Tetapi, ayahnya akan segera memanggilnya untuk menjahit pakaiannya yang robek atau merajut kaos kakinya yang berlubang, bukannya mendorongnya untuk belajar membaca dan menulis.

Segera setelah si anak perempuan berangkat remaja, ia harus dikawinkan dengan anak tetangga. Tentu saja dia membenci perkawinan itu karena ia masih menyukai masa kanak-kanak dan remajanya. Ia menangis dalam kehidupan perkawinan itu. Tetapi sikap ini berakibat pahit baginya, sebab dengan menangis itu ia akan menerima cambukan dan dera yang lebih menyakitkan. Ketika ia menangis, ayahnya akan meminta kepadanya untuk tidak berbuat yang memalukan martabat orang tua. Sebagai imbalannya, orang tua akan membelikan pakaian dan perhiasan yang indah-indah. Dalam keadaan yang demikian, bagaimana si gadis tidak akan mengindahkan permintaan atau “paksaan” orang tuanya.
Katakanlah ia mau memberontak dan memberanikan diri kabur ke London seperti yang dilakukan Shakespeare.

Masyarakat belum siap menerima kehadiran wanita muda bertualang sendiri di kota besar. Walaupun ia memiliki bakat panggung yang sama, ketajaman pengamatan yang sama terhadap perilaku sosial, tak seorangpun yang akan mau menerimanya. Salah-salah ia bisa menjadi mangsa “manusia serigala malam” yang mengakibatkan kehamilan yang tak terawat. Ia akan kelaparan bersama bayinya dan mati di salah satu sudut kota.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s